oleh

Cari Keadilan, Upah Jasa di Pemda Lutim Ini Temui Hotman Paris

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Srie Susilowati seorang ibu rumah tangga (IRT) yang juga sehari-harinya bekerja di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu Timur berstatus upah jasa ini menemui Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea di Jakarta, Sabtu (13/07/19) pagi.

Hal tersebut dibuktikan dengan beredarnya postingan video Hotman Paris Hutape di akun Instagramnya bersama Susilowati yang menggunakan hijab berwarna merah.

Kedatangan ibu dua anak itu, dalam rangka mencari keadilan atas perlakuan kasar dari suaminya inisial HN.

Dalam video yang berdurasi 59 detik tersebut Hotman Paris Hutape mengatakan, halo bapak kepala Kejaksaan Provinsi Sulawesi Selatan disini ada wargamu bernama Susilowati yang telah melaporkan suaminya atas dugaan KDRT yang menjabat sebagai kepala seksi pengendalian penduduk dan informasi Pemda Luwu Timur.

Lanjut dikatakan, kenapa dia mempertanyakan sudah tiga kali berkasnya dari Kejaksaan Negeri Luwu Timur bolak balik, jadi sudah tiga kali P19, alasannya antara lain katanya harus diintrogasi dari psikiater, padahal visum semua sudah ada, buktinya sudah ada, mohon kepala Kejaksaan Luwu Timur untuk memeriksa berkas ini atas nama pelapor Susilowati.

Video yang di posting empat jam lalu itu, tayang 42.063 kali dan disukai oleh 3.528 orang.

Terpisah, Susilowati dihubungi InputRakyat co.id melalui telepon genggamnya membenarkan kalau dirinya berada diluar daerah menemui Hotman Paris Hutapea untuk mencari keadilan.

“Saya mendapat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suami saya HN yang bekerja di Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Luwu Timur, berstatus ASN,” ungkapnya.

Diceritakannya, sebelum saya ke Jakarta mencari keadilan, saya sudah temui Bupati, Ibu Bupati dan Wakil Bupati Luwu Timur ternyata tidak ada jalan keluar, bahkan berkas saya di Kejaksaan sudah tiga kali bolak balik ke Kepolisian.

Dimana berkas pertama kali kembali menyatakan bahwa perlu saksi tambahan. Kedua, meminta bukti hasil visum dari dokter ahli kemudian yang ketiga, korban harus dilakukan pemeriksaan dari fisikiater, ujar Susi.

“Saya ini korban pak’, dan sejak 3 Maret 2017 saya tidak lagi dinafkahi, sebagaimana pengakuan suami saya dalam surat pernyataan yang ditandatanganinya,” ucapnya.

Menurutnya, saya digugat cerai di Pengadilan Agama Malili dari dasar izin cerai yang dikeluarkan BKPSDM Lutim pada 29 April 2019.

Anehnya, dalam surat itu saya bertandatangan menyutujui izin tersebut, dan hal ini saya mau minta bukti kapan saya bertanda tangan.

“Saya minta keadilan, saya ini seorang istri bukan binatang pak yang seenak-enaknya dikata-katain dari suami bahwa saya ini idiot, bodoh, Jawa bau, Jawa butto. Bahkan dia katakan, saya keluarga bupati, saya keluarga pejabat, kamu ini pendatang, kamu hanya honor, upah jasa, kamu bisa apa di kampung saya,” ucapnya.

Parahnya, saya dipukuli, diancam pakai parang, dan disiram air panas. Makanya saya laporkan ke Kepolisian atas KDRT yang saya alami.

“Apapun saya lakukan pak demi mendapatkan keadilan. Dan saat ini kasus perceraian saya tengah bergulir di Pengadilan Agama Malili dalam tahap pemeriksaan saksi pemohon,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan resmi dari HN suami Susilowati.

Liputan: Redaksi | Editor: Amk.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *