Dorong Peningkatan Pemanfaatan Energi Terbarukan, PT Vale Gelar Simposium Keberlanjutan

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_MAKASSAR,—PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) menggagas Simposium Keberlanjutan dengan tema “Energi Terbarukan untuk Masa Depan”, di Hotel Four Point Makassar, Jumat (10/1/2020). Ini merupakan tahun
kedua penyelenggaraan Simposium Keberlanjutan.

PT Vale bekerja sama dengan Pewarta Ekonomi Makassar (PENA) menggelar ajang berskala nasional tersebut untuk merangkul sebanyak mungkin stakeholder dan menanamkan kesadaran terkait pentingnya isu keberlanjutan.

Simposium Keberlanjutan menghadirkan panelis yang merupakan pakar di bidang energi baru terbarukan
(EBT), yaitu Kasubdit Penyiapan Program Aneka Energi Baru dan Terbarukan, Kementerian ESDM Tony Susandy, ST, MBA dan Direktur Pengairan dan Irigasi Bappenas Abdul Malik Sadat Idris, ST, MEng.

Simposium juga menghadirkan Deputi CEO PT Vale Febriany Eddy dan Director Engineering, Maintenance & Utilities PT Vale Abu Ashar. Melengkapi panelis, turut hadir Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo dan Direktur Galeri Foto Jurnalistik ANTARA Oscar Motuloh.

Acara dibuka oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman. Dalam sambutannya, dia
menyebutkan tentang besarnya potensi EBT di Sulawesi Selatan.

“Kita perlu bekerja sama, berkolaborasi, untuk mendorong transisi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Dengan demikian, kita bisa menjaga
alam dengan jauh lebih baik,” kata Andi Sudirman di hadapan 200 peserta Simposium Keberlanjutan yang datang dari kalangan Pemerintah Pusat dan Provinsi, DPRD Sulsel, DPRD Kota Makassar, LSM, serta akademisi.

Dia juga berpesan agar investasi yang dilakukan dunia usaha jangan sampai menimbulkan isu lingkungan dan konflik sosial. Dengan kata lain, misi keberlanjutan perlu menjadi kerangka pikir utama dunia usaha.

Panelis memberikan paparan dalam empat topik, yakni posisi dan target Indonesia dalam energi
terbarukan dan kemandirian energi, PLTA sebagai salah satu pilihan potensial energi terbarukan di
Indonesia, peran sektor swasta dalam energi terbarukan, serta etika jurnalisme pertambangan.

“Porsi energi terbarukan di Indonesia hingga 2018 baru 8,55% dengan target di 2025 sebesar 23%. Rencana Pemerintah ke depan hingga 2025 adalah meningkatkan porsi energi baru terbarukan, terutama berbasis hydro, mini hydro, dan panas Bumi karena potensinya melimpah dan sudah ada kontrak untuk mengembangkan EBT tersebut,” kata Tony Susandy.

Dia menambahkan komitmen Indonesia menghadapi perubahan iklim, salah satunya melalui Program Quick Win 2020 yang memuat poin prioritisasi pasokan
energi listrik bagi proyek smelter yang menggunakan EBT.

Abdul Malik menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan potensi PLTA terbesar ke-8 dunia, namun menempati peringkat ke-33 dalam jumlah kapasitas terpasang PLTA. Indonesia memiliki potensi EBT sebesar 419,3 Gigawatt sementara kapasitas terpasang baru 10,2 GW. Dengan potensi sumber daya air yang dimiliki negara kita, PLTA merupakan pembangkit EBT terbesar (52%) dan masih bisa terus dikembangkan.

Liputan: */Asmar | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *