Katai Bidannya “Jilbab T*i As*”, Kapus Wawondula Dipolisikan

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Puluhan ummat islam yang tergabung dalam From Pembela Islam (FPI) mendatangi Kantor Polsek Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, Sabtu (09/05/2020).

Rombongan para FPI tersebut melaporkan Kepala Puskesmas (Kapus) Wawondula, H. Sahmuddin atas ucapannya yang dinilai tidak etis.

“Ucapan Kapus Wawondula ke salah satu bidannya dinalai tidak etis dan berbau Sara. Ia melontarkan kalimat “Jilbab T*i As*” sembari marah-marah,” ungkap Rauf Dewang.

Lanjutnya, dari ucapan yang menimbulkan gejolak ditengah ummat muslim itu, kami bersama rombongan lainnya mendampingi bidan tersebut melaporkan ke polisi guna diproses lebih lanjut, terangnya.

Sementara itu, Hermiady suami korban, Hasni Rumbang kepada media ini membeberkan kronologis kejadian yang menimpah istrinya.

Dimana kata dia, kejadian bermula saat istri saya beserta delapan orang lainnya yang juga rekan kerjanya dipanggil menghadap oleh Kapus di rumah dinasnya pada Rabu (06/05/2020) Pukul 19.20 WITA.

Pada saat itu Kapus menyampaikan bahwa ada yang mau melakukan tindakan sendiri terkait tindakan medis dalam hal penanganan tenaga medis yang kontak dengan orang yang positif rapid test tanpa ada perintah dari Kapus.

Tidak sampai disitu, Kapus juga bertanya ke mereka satu persatu, dan ketika giliran istri saya ditanya, Ia menjelaskan terkait tindakannya dalam hal pemberian bantuan sesama rekan bidan.

Namun Kepala Puskesmas malah menyalahkan istri saya dan berbahasa yang tidak menyenangkan sembari melontarkan ucapan “kudung t*i as*”.

“Sehingga dari ucapan itu, kami bersama ummat muslim lainnya melaporkan Kepala Puskesmas ke pihak yang berwajib siang tadi,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Wawondula, H. Sahmuddin membenarkan kalau dirinya dilaporkan ke Kepolisian.

“Iye, saya tadi di lapor ke Polsek Towuti”. Menurutnya, bidan ini (pelapor-red) telah mendiskriminasi temannya yang negatif rapid testnya. Dia mau karantina atas kemauan bertiga dengan rekannya tanpa menyampaikan ke Kepala Puskesmas.

“Bidan Hasni sudah dua kali melakukan tindakan di Puskesmas tanpa berkoordinasi ke saya. Ia selalu membawakan inspirasi teman, lalu saya tanya teman tersebut apakah kau ikut inspirasi itu, dia mengatakan kalau tidak,” terangnya.

Ia menceritakan, malam itu saya sibuk mengurus tempat teman yang positif rapid test, kemudian datanglah teman yang diskriminasi menemui saya sembari menangis, dia bilang saya di telepon ibu bidan apakah betulkah tindakan karantina itu merupakan perintah Kapus, tapi ternyata hal itu hanya inisiatif bidan Hasni (pelapor) dan Junita.

“Makanya saya sangat emosi ke dia dan saya katakan “pa’jilbab t*i as*” ini, dua kali membuat kesalahan dan tidak memberitahui ke saya serta melangkahi kewenangan saya sebagai Kepala Puskesmas tanpa dibicarakan mengenai psikis anak tersebut. Masuk akal nda pak kalau orang negatif mau dikarantina,” ujarnya.

Seharusnya mereka paham dengan psikis anak itu. Kasihan anak itu pak setiap datang bertugas di Puskesmas selalu merasa tertekan, sementara dia negatif berdasarkan hasil rapid test, tambahnya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *