Kecewa, Mahasiswa Lutim di Yogyakarta Kirim ‘Surat Cinta’ ke Bupati

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Puluhan mahasiswa Lutim yang menimbah ilmu di Daerah Istimewa Yogyakarta kecewa ke Pemerintah Daerah Luwu Timur.

Kekecewaan tersebut ditumpahkan melalui surat cinta yang ditujukan ke Bupati Luwu Timur, HM Thorig Husler.

Dalam surat tersebut para Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Pelajar Mahasiswa (Forma) Lutim Yogyakarta menyatakan menolak surat yang dikeluarkan Bupati Lutim terkait permintaan bantuan yang ditujukan ke Dinas Sosial Daerah Istimewa Yokyakarta.

Selain itu, tertera pula tiga poin bunyi penolakan yakni,

1. Membunuh makna filosofi Wanua Mappatuo Naewai Alena, yang dimana kalimat tersebut merupakan salah satu bagian paling mendasar dari kebudayaan manusia Bumi Batara Guru, dan pemerintah daerah Luwu Timur yang telah kami anggap sebagai orang tua kami mahasiswa Luwu Timur Daerah Istimewa Yogyakarta seharusnya menjaga dan memegang teguh makna filosofi itu. Tidak mencederainya dengan meminta-minta.

2. Melihat kondisi Yogyakarta selama pandemi, dimana semua sektor perputaran ekonomi utamanya telah lumpuh dan tidak produktif lagi. Dan pemerintah daerah istimewa Yogyakarta sendiri juga memiliki mahasiswa dan masyarakat yang harus mereka perhatikan terlebih dahulu.

3. Miris melihat keadaan Kabupaten Luwu Timur dengan kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah, tapi terlihat tidak punya apa-apa. Dan kami juga prihatin dengan dana penanganan Covid-19 sebesar Rp 34 Milyar yang tidak jelas alokasinya.

Dikonfirmasi terkait surat penolakan tersebut, Ketua Forma Lutim Yogyakarta, Muhammad Yogi mengatakan, dengan dikeluarkannya surat permohonan bantuan ke Dinsos Yogyakarta oleh Bupati Lutim sangat dinilai kalau Pemda Lutim tidak memiliki rasa kepedulian ke kami (Mahasiswa), ungkapnya, Minggu (17/05/2020).

Perlu diketahui kata dia, Pemerintah Yogyakarta hanya mengandalkan sektor pariwisata dan kebudayaan, nah’ sementara di tengah pandemi ini bisa dikatakan kedua sektor tersebut dinilai lumpuh.

“Masa pemerintah daerah Lutim harus meminta ke pemerintah Yogyakarta, sementara cerita yang keluar Lutim merupakan salah satu daerah terkaya di Sulsel, ini sama halnya Lutim dibuat malu,” tandas Yogi.

Lanjutnya, pemerintah Yogyakarta saat ini tengah fokus membantu masyarakat dan mahasiswanya, lalu Pemda Lutim kemana?.

“Kami sangat kecewa atas sikap pemerintah daerah Luwu Timur, yang tidak memiliki rasa kepedulian, dan atas kejadian itu kami sudah menutup diri ke Pemda Lutim,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini para mahasiswa asal Lutim hanya berdiam diri di Asrama dan sebagian di kos. “Alhamdulillah, kami semua dalam kondisi sehat,” cerita Yogi.

Di tengah pandemi ini, kami sudah diberikan bantuan dari para alumni mahasiswa Lutim Yogyakarta, dan besok rencananya hal serupa juga dilakukan oleh Kerukunan Keluarga Luwu (KKL) Lutim.

“Atas bantuan itu dihaturkan banyak terimakasih kepada orang tua kami dari alumni Mahasiswa Lutim Yogyakarta dan KKL Lutim, semoga apa yang telah mereka berikan dibalas oleh Allah SWT, amin,” tutupnya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *