Nama Makam Puang Mallipae di Desa Ussu Disoal

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Penetapan nama makam Puang Mallipae di Desa Ussu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, disoal dari sejumlah pihak.

Demikian halnya diungkapkan Andi Sukma warga Malili yang juga rumpun atau turunan dari salah satu makam dalam lokasi tersebut kepada InputRakyat.co.id, Senin (20/04/2020).

“Di makam tersebut terdapat kuburan leluhur kami. Darimana asal usulnya pemberian nama itu,” ujarnya.

Kenapa namanya dirubah, sementara ada nama di makam tersebut. “Tidak ada nama di makam itu bernama Puang Mallipae. Itu hanya nama lokasi,” kata Andi Sukma.

Perlu diketahui, ada tiga makam di lokasi itu yakni kakek kami, Andi Leluasa dan istrinya Andi Aminah, serta satu lagi makam yang saya lupa namanya.

Seharusnya kata Sukma, penempatan nama makam itu, terlebih dahulu didudukkan bersama dengan tokoh yang lebih paham.

“Tolong kalau ada penempatan seperti ini dikonfirmasi ke kami sebagai anak cucunya, karena nda mungkin kami ada di disini (Lutim) kalau tidak ada leluhur kami,” ucapnya.

Senada dari itu, Andi Endi Bi Shin Go yang juga salah satu turunan dari makam tersebut meminta pemberian nama makam tersebut diluruskan dengan baik.

“Yang mana dimaksud makam Puang Mallipa’e ?. Disitu terdapat beberapa kuburan keluarga kami, diantaranya kakek buyut kami, Andi Laluasa Opu To Masseuwa,” imbuh Andi Endi yang juga mantan anggota DPRD Lutim.

Ia menegaskan, secara pribadi maupun mewakili keluarga, sangat keberatan jika kuburan leluhur kami diganti namanya dengan mitos “To Mallipa’e” yang konon menurut cerita orang-orang tua terdulu bahwa disekitar lokasi biasa ada penampakan sosok manusia bersarung (To Mallipa’e).

Untuk itu, kami akan minta Pemerintah Daerah melalui Dinas terkait untuk memberikan fakta mengenai keberadaan “Puang Mallipae” dan asal usulnya sehingga dimakamkan di Ussu. Jangan sampai ada pengaburan sejarah di Bumi Batara Guru yang kita cintai ini, tandasnya.

Terpisah, Dosen Arkeolog Unhas Makassar, Iwan Sumantri menuturkan kalau dirinya pertama kali ke tempat tersebut pada Tahun 1989.

Saat itu, orang di Ussu dan Cerekeng menyebutkan bahwa disitu merupakan tempat pemakaman To Mallipae, lalu ketika kami lanjutkan penelitian dan survei ternyata sebutan To Mallipae adalah merupakan tempat atau lokasi, bukan sebuah nama atau yang dimakamkan di tempat itu.

Menurutnya, To Mallipae adalah nama lokasi atau tempat yang “dikeramatkan” warga setempat, dalam artian tidak boleh diinjak, tidak boleh menggunakan sepatu dan sebagainya.

“Jadi, To Mallipae merupakan sebuah lokasi atau tempat, bukan sebuah nama salah satu di pemakaman tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, Kadis Pariwisata, Budaya, Pemuda dan Olahraga Lutim, H. Hamris Darwis menjelaskan, bahwa sebelumnya pemberian nama tersebut sudah di komunikasikan ke tokoh-tokoh setempat.

Mereka menyebut nama makam tersebut adalah Puang Mallipae, makanya kami tetapkan nama itu, jelasnya.

Selain itu, di lokasi makam juga tidak terdapat nama di batu nisan, jadi kami tidak tahu siapa nama-nama di makam itu, sehingga kita tetapkan nama Makam Puang Mallipae seperti pengakuan warga dan tokoh setempat, papar Hamris.

“Tetapi kalau ada penolakan seperti ini, ya’ nanti kita bicarakan ulang dengan melibatkan semua yang lebih paham, nama itu kan bisa ji di rubah sepanjang memenuhi dasar,” tambahnya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *