Satreskrim Polres Lutim Lidik Kasus Dugaan Pembobolan Brankas Disdik

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Sat Reskrim Polres Luwu Timur mulai melakukan penyelidikan kasus pembobolan brankas Dinas Pendidikan, baru-baru ini.

Hal itu diungkapkan Kasat Reskrim Polres Luwu Timur, IPTU Elly Kendek kepada InputRakyat.co.id, Senin (27/01/2020).

“Kasus ini kami sudah lidik dan mengundang pihak Dinas Pendidikan untuk dimintai keterangan guna pengembangan lebih lanjut,” singkatnya.

Untuk diketahui, terduga pelaku berinisial BI berulang kali melakukan pembobolan brankas bendahara Dinas Pendidikan Lutim.

Aksi nekat tersebut terekam CCTV disudut atas ruangan bendahara. Dalam rekaman itu, terlihat BI yang masih mengenakan seragam ASN membuka brankas.

Setelah brankas terbuka, BI mengambil sejumlah uang dan menyimpan dalam sakunya, kemudian bergegas meninggalkan ruangan.

Aksi tersebut dilakukan usai jam kerja. Saat itu BI berstatus staf bendahara Dinas Pendidikan (Disdik) Lutim.

“Kalau dalam rekaman, dua kali BI terlihat masuk kedalam ruangan bendahara dan mengambil uang, saya tidak tahu aksi sebelumnya, karena masa penyimpanan rekaman CCTV hanya berkisar 10 hari,” kata La Besse, Kadis Pendidikan saat ditemui awak media, pekan kemarin.

Dari pengakuannya, BI mengambil uang berkisar Rp 60 juta dan bersedia melakukan pengembalian dengan cara memotong tunjangan dan gaji, ujarnya lagi.

Akibat perbuatannya tambahnya, BI kami beri sanksi disiplin dengan memutasi ke sekolah dasar yang berada di Kecamatan Kalaena sebagai tata usaha (TU).

Senada dari itu, bendahara Disdik, Aetken Ibrahim menuturkan bahwa terduga pelaku sebelumnya sudah melakukan hal serupa dengan modus yang berbeda.

Menurut pengakuan teman-teman dari SMP 1 Tomoni Timur, BI mengelabui bendahara sekolah dengan menakut-nakuti agar saldo dana BOS tidak disimpan di rekening dan harus dikembalikan ke daerah.

Terhasut ancaman itu, BI meluncurkan aksinya dengan membantu bendahara sekolah untuk menyetor ke daerah, namun nyatanya dana tersebut tak tahu dikemanakan.

Selain itu, BI juga sudah melakukan penagihan ke 80 sekolah biaya aplikasi senilai Rp 1 juta persekolah, dana itu tidak disampaikan ke saya dan tidak pernah mengatakan kalau sudah melakukan penagihan, tutupnya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *