Sungai Pongkeru-Malili Tercemar, DLH Lutim: Kami Akan Identifikasi

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Kabupaten Luwu Timur setelah diguyur hujan lebat, sungai Pongkeru hingga kehilir tampak tidak lagi jernih dan berubah warna menjadi merah kekuningan.

Sementara sungai tersebut merupakan sumber kebutuhan masyarakat yang berada di Desa Pongkeru, Wewangriu, Balantang, Baruga dan Kelurahan Malili.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dihulu sungai tersebut terdapat aktivitas tambang nikel oleh PT. Citra Lampia Mandiri (CLM) dan beberapa aktivitas lainnya diluar dari CLM.

Kabid Penataan dan Penaatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luwu Timur, Nasir Dj saat dikonfirmasi terkait persoalan tersebut mengatakan akan melakukan identifikasi, ungkapnya, Minggu (29/12/19).

“Kami akan cek sumber penyebab pencemaran kwalitas air sungai Pongkeru dan segera berkoordinasi dengan BMKG Makassar terkait data curah hujan untuk kemudian melakukan validasi secara komprehensip dan holistik penyebab kejadian tersebut,” ujarnya lagi.

Namun untuk diketahui kata dia, bahwa satuan wilayah administrasi Daerah Aliran Sungai (DAS) ini berada di dua wilayah Propinsi yakni Provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya Kecamatan Asera dan Kecamatan Purehu. Kedua kecamatan itu terletak dihulu sungai.

Sementara dihilir yakni Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Luwu Timur, kemudian menyatu dengan DAS Larona/Malili dan bermuara di Teluk Bone, papar Nasir.

Oleh sebab itu lanjutnya, untuk menelaah sumber penyebab kekeruhan aliran sungai ini harus ditelisik dari hulu sungai sampai pada hilirnya begitu pun dampak yang akan ditimbulkan.

Karena secara prinsip dan filosofi kerusakan atau pencemaran lingkungan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu artinya bahwa boleh jadi penyebab kerusakan lingkungan di daerah hulu DAS yang menyebabkan kekeruhan dibagian hilir DAS demikian pula dengan seiring jalannya waktu kerusakan pada hulu DAS baru kemudian berimpack ke hilir DAS, terangnya.

Menurutnya, berdasarkan hasil identifikasi kami bersama pihak terkait beberapa bulan lalu saat kejadian yang sama dengan menelusuri DAS ini ditemukan beberapa kegiatan atau aktivitas dibagian hulu DAS seperti perkebunan, ilegal loging dan aktivitas pertambangan baik yang berada di Provinsi Sultra tepatnya di kecamatan Asera dan Purehu maupun di Kabupaten Luwu Timur yang massif dilakukan dan hal tersebut sudah diberikan tindakan sesuai aturan yang berlaku.

“Nah, untuk kejadian saat ini yang mengarah kepada dugaan penyebab kekeruhan oleh salah satu corporasi pertambangan yakni PT. Citra Lampia Mandiri, kami akan segera mengecek aktivitas dan membentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan di lapangan, apakah treatmen pengendalian erosi dan sedimen pond atau seatling pond berfungsi dengan baik ataukah tidak,” tandasnya.

Ketika hasil identifikasi dan cross check lapangan serta uji laboratorium kualitas air disekitar outlet pond sediment PT. CLM dan bangunan pengendali erosi hingga sedimentasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka kita akan lakukan tindakan hukum lingkungan sesuai dengan mekanisme perundang-undangan yang berlaku yakni UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (PPLH), tegas Nasir.

“Kami sudah hubungi pihak CLM untuk segera melakukan langkah-langkah kongkrit untuk segera melaporkan kejadian atau peristiwa lapangan yang dilengkapi data serta informasi yang valid dan akurat ketika bangunan pond sediment tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” tutupnya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *