oleh

Tak Hafal Tugas Bahasa Inggris, Siswi Ini Ngaku Ditampar Guru

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Aksi kekerasan fisik seorang guru terhadap siswa di SMA Negeri 7 Luwu Timur, Sulsel, kembali terjadi.

Hal itu dialami RV (16) siswi kelas 10 IPS IV lantaran tak mampu menghafal tugas bahasa inggris yang diberikan oleh gurunya.

“Saya dipukul karena belum mampu saya hafal semua, baru separuh saya hafal,” tutur RV kepada wartawan, Selasa (22/01/19).

Tentu saja aksi guru tersebut mengundang protes orang tua siswa yang tak terima dengan perlakuan kasar terhadap anaknya.

Hingga orang tua RV mendatangi sekolah untuk mengadukan perlakuan sang guru bahasa Inggris berinisial HR agar mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Menurut RV, peristiwa tersebuit terjadi pada senin (21/1/19) sekitar pukul 15.00 sore pada saat dirinya dipanggil ke salah satu ruangan guru.

Saat itu RV mengaku belum mampu menghafal seluruhnya, Ia langsung mendapat tamparan pada pipi sebelah kirinya hingga mengenai telinganya dan menurut pengakuannya RV sempat mengalami gangguan pendengaran (berdengung-red). Bukan hanya itu, RV malah sempat diancam dikeluarkan dari sekolah.

Menanggapi peristiwa kekerasan terhadap siswa tersebut, kepala sekolah SMAN 7 Luwu Timur, Zarkasi mengatakan, saya sudah pertemukan kedua belah pihak. Alhasil keduanya sepakat berdamai, ungkapnya kepada InputRakyat.co.id saat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya.

Menurutnya, saat guru bersangkutan saya tanya, Ia mengaku kalau dirinya tak menampar siswi tersebut, hanya saja spontan mendorong dibagian kepala.

Diceritakannya, bahwa persoalan itu bermula saat guru bersangkutan meminta agar RV menghapal tugas bahasa Inggris sebanyak 28 kata, yang sebelumnya diberikan masa waktu selama dua bulan.

Karena tak mampu menghafal tugas tersebut, guru bersangkutan bertanya kepada siswi, namun diberikan jawaban yang tak elok dikeluarkan oleh seorang pelajar terhadap gurunya, sehingga insiden tersebut terjadi, beber Zarkasi.

Masih dikatakannya, saya sudah memberikan teguran kepada guru tersebut untuk memberi didikan yang lebih baik kepada siswa atau pelajar, agar hal serupa tak terulang lagi, tandasnya.

“Soal pernyataan oknum guru akan mengeluarkannya dari sekolah tentu tidak segampang itu, kita harus meminta persetujuan semua pihak,” kata Zarkasi.

Terpisah, Itassakka selaku kepala seksi SMA Kantor Cabang Dinas Wilayah XII Lutim dan Lutra saat ditemui diruang kerjanya mengaku tak tahu persoalan tersebut.

“Saya belum tahu persoalan itu de, karena sampai saat ini kami belum menerima laporan dari sekolah maupun siswi yang bersangkutan,” ucap Itas.

Yang jelas ketika itu betul-betul terjadi, kami akan tindaki, karena sudah tidak diperbolehkan lagi guru main tangan apalagi sampai melukai. Makanya, seorang guru harus menerapkan pada dirinya sifat sabar, ujarnya.

“Nanti saya akan cek persoalan ini de,” singkatnya.

Liputan: Redaksi | Editor: Amk.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *