Example 728x250
Example 728x250
Input LutimInput Luwu Raya

Ini Analisis Penyebab dan Solusi Atas Bencana Longsor di Malili

717
×

Ini Analisis Penyebab dan Solusi Atas Bencana Longsor di Malili

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Mattang dan Kasri warga Jl. M. Natsir, Kelurahan Malili, Kecamatan Malili, Luwu Timur, Sulsel, dirundung kesedihan.

Pasalnya, tempat tinggal kedua korban tersebut tertimpa material tanah longsor, Senin (06/07/18) sekitar pukul 03.03 Wita dini hari.

Berdasarkan analisis hasil identifikasi lapangan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luwu Timur menyimpulkan, penyebab terjadinya longsor tersebut yakni :

1. Curah hujan yang tinggi.

2. Bukan metode terasering yang digunakan melainkan hanya menempelkan campuran semen ke permukaan tanah dengan kelerengan 80%.

3. Ada space antara jalan di Batumerah dan tebing yang tidak kedap air sehingga terjadi infiltrasi ke dalam tanah.

4. Banyaknya gulma dan pohon yang tumbuh dan menempel di dinding tebing sehingga akar tanaman masuk disela-sela beton yang menyebabkan air masuk ke dalam, sehingga tanah mengembang karena mengandung air (tanah dilokasi kejadian berJenis tanah oxisol yang sifatnya mengembang mengerut-red).

5. Pada permukaan jalan Batumerah tepatnya ujung atas tebing ditumbuhi beberapa tanaman masyarakat berupa pohon mangga, kelapa dan lain-lain, bahkan rumah semi permanen.

Untuk tidak terjadi hal serupa berikut langkah atau solusi yang dapat dilakukan yaitu :

1. Membuat terasering di tebing.

2. Membeton tanah yang berada diantara aspal dan tebing di jalan Batumerah sepanjang tebing.

3. Membersihkan tebing dari gulma dan menebang pohon yang menempel di permukaan tebing beton.

4. Mensterilkan seluruh kegiatan yang ada di jalan Batumerah sepanjang tebing.

5. Menanam tanaman jenis bambu diujung bawah tebing sebagai buffer Zone atau penahan longsor nantinya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala DLH Lutim, Andi Tabacina melalui Kepala Bidang penaatan lingkungan hidup, Nasir Dj, kepada InputRakyat.co.id.

Dijelaskannya, longsor tersebut disebabkan curah hujan yang tinggi, sehingga air masuk kedalam tanah (infiltrasi-red) melalui ruang-ruang permukaan tanah yang tidak kedap air serta pohon-pohon melalui akar ke dalam tanah.

Akibatnya, tanah menyimpan banyak air kemudian mengembang, dan akhirnya terjadi tekanan dari dalam tanah yang mengarah keluar bangunan fisik ditebing tersebut, tambah Nasir.

Liputan: Arif | Editor: Amk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *