Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Luwu Timur Anjlok, Afri: Pemda Harus Inovatif

618
×

Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Luwu Timur Anjlok, Afri: Pemda Harus Inovatif

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Luwu Timur pada tahun 2019 dikabarkan anjlok. Bahkan Luwu Timur berada di posisi terakhir di Sulawesi Selatan, dengan angka 1,17 persen.

Hal itu disampaikan Direktur Utama Celebes Development Center (CDC), Afrianto Nurdin kepada InputRakyat, Kamis (09/07/2020).

“Penurunan itu dipengaruhi tiga sektor yakni sektor pertambangan, pertanian dan kontruski,” ujarnya lagi.

Sektor pertambangan misalnya, ketika produksi pertambangan turun atau harganya dipengaruhi oleh pasar global tentu berdampak pada perubahan ekonomi secara makro di Luwu Timur.

Sementara sektor pertumbuhan pertanian di tahun 2019 lalu juga mengalami penurunan, dimana hanya terjadi penambahan sekitar 1,0 persen jika dibandingkan dari tahun sebelumnya yang penambahannya mencapai 6 sampai 7 persen.

Untuk sektor kontruksi kata Arif, pertumbuhannya sangat kecil dan bahkan tampak tidak kelihatan.

Menurutnya, kalau persoalan pertambangan itu kewenangan sepenuhnya pemerintah pusat, sehingga terkait proses produksi tidak menjadi kewenangan pemerintah daerah, sedangkan negara pun hanya mendapatkan royalti dari tahun sebelumnya, sebelum ada divestasi.

Lanjut Arif, pendapatan Luwu Timur paling tinggi penerimaan pajak dari sektor pertambangan, cuman kalau dihitum secara makro seberapa besar input yang diberikan terhadap lapangan usaha lain dari sektor pertambangan tersebut inputnya sangat kecil, jelasnya.

Maka dari itu kata dia, seharusnya beberapa tahun ini pemerintah daerah harus berkonsentrasi ke sektor lain, karena tanpa diintervensi pun sektor pertambangan ini bisa berjalan sendiri.

Tidak hanya itu, dikajian lain untuk pembentukan modal yang sudah dilakukan dikepimpinan Husler selama lima tahun ini cukup besar, kerena efektifitas pembentukan modal biasanya diangka 4 sampai 5 persen dengan output pertumbuhan satu persen, cuman setelah saya hitum melalui incremental capital output ratio (ICOR) ternyata malah output pertumbuhan ekonominya menurun.

Hal itu dikarenakan pemerintah mengeluarkan banyak anggaran tetapi dampaknya pada kegiatan ekonomi masyarakat tidak terasa, terang Arif.

Disisi lain, pertanian di Luwu Timur juga tidak mendorong perekonomian secara maksimal serta minimnya timbal balik bagi petani, dikarenakan tidak adanya kegiatan industri.

“Namun yang ada hanya masyarakat menkonsumsi beras dari luar. Hasil panen dijual keluar dan mereka juga yang kembali membeli beras dari luar,” bebernya.

Selain itu, ia juga menyinggung soal konsumsi di Lutim yang dinilai minim jika dibandingkan dengan daerah lain di Luwu Raya. Lutim hanya mencapai angka 30 persen konsumsi rumah tangga.

Namun hal itu sangat lucu dari sisi pendapatan perkapita Lutim yang lebih tinggi setelah Makassar. Dimana seharusnya pendapatan masyarakat juga akan mempengaruhi persantese konsumsi dipengeluaran, tetapi hal itu tidak kelihatan, sehingga tampak sebagian besar masyarakat menerima pendapatan di Lutim tapi konsumsinya di luar daerah.

“Nah, seharusnya perputaran ekonomi terjadi di Lutim bukan diluar daerah, karena itu dapat memberikan pertambahan pendapatan daerah dalam bentuk pajak konsumen dan memberikan nilai tambah terhadap siklus perekonomian di masyarakat,” ungkapnya.

Secara teori ekonomi, ketika laju pertumbuhan ekonomi turun tentu berdampak pada pendapatan. Akibatnya, presentase pengangguran akan bertambah.

Dimana persentase pengangguran pada tahun 2019, mengalami lonjakan dari 2 persen menjadi 4 persen, kalau secara nominal dari dua ribu lebih sampai 4 ribu lebih pengangguran.

“Teori sederhananya, jika ekonomi turun berarti ada aktivitas ekonomi kurang cepat pergerakannya, jadi kegiatan usahapun tentu akan berpengaruh,” katanya.

Maka dari itu, seharusnya pak bupati melihat beberapa tahun belakangan ini, dimana sektor pertambangan tidak bisa menjadi acuan untuk mendorong perekonomian, dan pemerintah daerah harus inovatif.

Disinggung kondisi laju pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 tambah Arif, saya prediksi Lutim mengalami penurun mencapai nol koma sekian persen, lantaran adanya kondisi wabah virus corona, sehingga berpengaruh pada tiga sektor.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *