INPUTRAKYAT_MAJENE,– Pemerintah Desa Seppong, Kecamatan Tammerodo Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, menggelar kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2026 pada Kamis (21/05/2026) sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung percepatan penurunan stunting sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021.
Kegiatan yang menjadi bagian penting dalam agenda perencanaan pembangunan desa tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Desa Seppong Mawardi, S.P., Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kecamatan Tammerodo Sendana Basruddin, S.P., M.M., perwakilan UPTD Puskesmas, perwakilan KUA Kecamatan Tammerodo Sendana, jajaran BPD, Bhabinkamtibmas Polsek Sendana, Pendamping Desa, Pendamping PKH, para Kepala Dusun, Bidan Desa, kader Posyandu, serta pengurus TP-PKK Desa Seppong.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Seppong, Mawardi, S.P., menyampaikan apresiasi atas sinergi seluruh pihak yang terus berkolaborasi dalam upaya penanganan stunting di wilayahnya. Ia mengungkapkan, berdasarkan data evaluasi terbaru, angka stunting di Desa Seppong menunjukkan tren penurunan yang positif.
“Pada akhir tahun 2025 tercatat sebanyak 29 anak mengalami stunting, dan per April 2026 jumlah tersebut berhasil ditekan menjadi 26 anak. Meskipun penurunannya masih sekitar 0,99 persen, namun ini menjadi indikator bahwa upaya bersama mulai menunjukkan hasil yang baik,” ujarnya.
Mawardi juga menyebutkan bahwa sejak dirinya menjabat sebagai kepala desa, Desa Seppong tidak pernah masuk dalam kategori lokus stunting tertinggi di Kabupaten Majene. Bahkan, desa tersebut pernah memperoleh penghargaan atas keberhasilan replikasi inovasi penanganan stunting yang dinilai efektif dan tepat sasaran.
Menurutnya, Pemerintah Desa Seppong akan terus mengalokasikan anggaran penanganan stunting dalam APBDes setiap tahunnya. Selain sebagai bentuk tanggung jawab moral dalam menciptakan generasi sehat dan berkualitas, hal tersebut juga menjadi salah satu syarat penting dalam proses pencairan Dana Desa.
Meski demikian, Mawardi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi bersama. Salah satunya adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan penimbangan rutin di Posyandu serta faktor kesenjangan ekonomi yang berdampak pada pemenuhan gizi keluarga.
Selain itu, antusiasme masyarakat terhadap program Integrasi Layanan Primer (ILP) Posyandu yang mencakup pelayanan seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja hingga lansia, dinilai masih perlu ditingkatkan.
“Masih ada satu kasus ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) yang harus segera mendapatkan intervensi serius pada tahun anggaran 2026 ini. Selain itu, sinkronisasi data lintas sektor juga perlu diperkuat agar tidak terjadi perbedaan data antara tingkat desa dan kecamatan,” tambahnya.
Sementara itu, perwakilan KUA Kecamatan Tammerodo Sendana menegaskan bahwa persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan faktor kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan keluarga dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
“Melalui program penasihatan perkawinan, kami memberikan pemahaman kepada calon pengantin terkait tantangan kehidupan berkeluarga, termasuk pentingnya kesehatan reproduksi, kesiapan mental, spiritual, dan ekonomi,” jelasnya.
Pihak KUA juga menyoroti masih adanya praktik pernikahan dini di tengah masyarakat yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko stunting akibat ketidaksiapan pasangan secara fisik maupun emosional. Karena itu, KUA bersama pihak terkait berkomitmen memperketat pengawasan dispensasi nikah demi mendorong terbentuknya keluarga sehat dan berkualitas.
Dalam rembuk tersebut, Pemerintah Desa Seppong juga memaparkan sejumlah inovasi program yang telah dijalankan bersama kader kesehatan, TP-PKK, serta instansi terkait. Program tersebut antara lain fasilitasi pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pembiayaan USG dan obat-obatan, bimbingan calon pengantin berbasis multisektor, hingga program ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah warga dengan pembagian bibit sayuran.
Melalui kegiatan Rembuk Stunting ini, Pemerintah Desa Seppong berharap sinergi lintas sektor semakin kuat sehingga upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih optimal demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas di masa mendatang.
Penulis : Rezki/Abi Garudapos














