INPUTRAKYAT_LUTIM,—Ada satu angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan pesan besar tentang kondisi masyarakat Luwu Timur hari ini, jumlah hewan kurban terus meningkat.
Di tengah dinamika ekonomi yang masih dirasakan banyak daerah, Kabupaten Luwu Timur justru mencatat kenaikan cukup signifikan dalam pelaksanaan ibadah kurban tahun 2026.
Berdasarkan data rekapitulasi jumlah hewan kurban se Kabupaten Luwu Timur, pada tahun 2025 tercatat sebanyak 1.506 ekor sapi dan 176 ekor kambing, atau total 1.682 ekor hewan kurban.
Sementara pada tahun 2026, jumlah tersebut naik menjadi 2.019 ekor sapi dan 187 ekor kambing, dengan total 2.206 ekor hewan kurban.
Artinya, hanya dalam satu tahun terjadi kenaikan 524 ekor hewan kurban atau sekitar 31 persen.
Angka ini bukan sekadar statistik tahunan. Di banyak daerah, jumlah hewan kurban sering dipandang sebagai salah satu gambaran kemampuan ekonomi masyarakat karena kurban merupakan ibadah yang membutuhkan kesiapan finansial dan dilakukan secara sukarela.
Jika tahun ini lebih banyak warga yang mampu berkurban, maka ada sinyal bahwa daya beli, pendapatan, dan optimisme masyarakat ikut bergerak positif.
Kenaikan tersebut juga terlihat merata di sejumlah wilayah. Kecamatan Towuti menjadi wilayah dengan jumlah sapi kurban tertinggi mencapai 616 ekor, disusul Malili 263 ekor, Tomoni 175 ekor, dan Wotu 175 ekor.
Menariknya, bukan hanya masyarakat umum yang ikut mengambil bagian. Hampir seluruh perangkat daerah (OPD) juga berpartisipasi dalam pelaksanaan kurban tahun ini. Hal tersebut memperlihatkan bahwa semangat berbagi dan kebersamaan tidak hanya tumbuh di tingkat masyarakat, tetapi juga menjadi budaya di lingkungan pemerintahan.
Peningkatan jumlah kurban ini tentu tidak bisa disimpulkan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan ekonomi. Namun, bagi banyak warga, angka tersebut menjadi gambaran nyata bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak dan kemampuan berbagi juga ikut meningkat.
Di balik angka-angka itu, ada pesan yang lebih besar, ketika masyarakat semakin banyak yang mampu memberi, maka ada rasa aman, ada kepercayaan, dan ada optimisme terhadap kondisi daerahnya.
Luwu Timur hari ini tidak hanya bicara soal pembangunan fisik, tetapi juga memperlihatkan bahwa ruang ekonomi masyarakat terus bergerak dan semangat gotong royong tetap hidup.
Ketika jumlah yang memberi semakin banyak, itu bukan hanya tentang kurban, tetapi juga tentang tumbuhnya harapan dan rasa percaya diri masyarakat terhadap masa depan daerahnya.














