INPUTRAKYAT_LUTIM,–Ditengah kesibukan mengurus daerah, seorang bupati tentu memiliki banyak pilihan tempat untuk menghabiskan waktunya. Bisa di ruang kerja, di ruang rapat atau menghadiri berbagai acara resmi yang penuh protokoler.
Namun Minggu sore, (21/6/2026), Bupati Luwu Timur, H. Irwan Bachri Syam memilih sesuatu yang sederhana. Ia datang ke Sekretariat JMSI, duduk bersama wartawan, menikmati secangkir kopi, lalu berbincang santai tanpa sekat.
Mungkin bagi sebagian orang ini hal biasa atau lebay. Tetapi menjadi catatan bahwa tidak semua pemimpin mau melakukannya.
Banyak pejabat yang hanya bisa ditemui melalui jadwal yang ketat. Banyak yang berbicara melalui podium. Namun tidak sedikit masyarakat yang merindukan pemimpin yang mau duduk bersama, mendengar, dan berbicara apa adanya.
Dalam pertemuan itu tidak terlihat sekat antara jabatan dan profesi. Yang terlihat hanyalah suasana kekeluargaan. Sesekali terdengar tawa, candaan dan cerita ringan tentang daerah yang kita cintai ini.
Di situlah nilai sebuah kepemimpinan sering kali terlihat. Bukan dari seberapa tinggi kursi yang diduduki, melainkan dari seberapa dekat ia dengan orang-orang di sekitarnya.
Sebagai kepala daerah, IBAS sapaan akrabnya tentu tidak bisa menyenangkan semua orang. Kritik akan selalu ada. Perbedaan pendapat juga tidak mungkin dihindari. Namun satu hal yang patut diapresiasi adalah kesediaannya membuka ruang komunikasi.
Karena seorang pemimpin yang mau mendengar adalah pemimpin yang memahami bahwa dirinya tidak bisa bekerja sendiri.
Masyarakat mungkin tidak ikut hadir dalam ngopi bareng itu. Namun pesan yang sampai sangat jelas. Bahwa membangun daerah bukan hanya soal program, anggaran atau proyek pembangunan. Membangun daerah juga tentang membangun hubungan, menjaga komunikasi dan menghargai setiap suara.
Boleh jadi yang tersaji sore itu hanyalah kopi. Namun yang dirasakan banyak orang adalah sesuatu yang lebih hangat dari sekadar secangkir minuman.
Yaitu kesederhanaan, keterbukaan, dan kerendahan hati seorang pemimpin yang memilih untuk hadir di tengah percakapan, bukan hanya di atas panggung.














