Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Kasus Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Lampia Turun di Dua Desa, Naik di Pasi-Pasi

160
×

Kasus Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Lampia Turun di Dua Desa, Naik di Pasi-Pasi

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–UPTD Puskesmas Lampia mencatat perkembangan berbeda dalam penanganan stunting di empat desa wilayah kerjanya, yakni Laskap, Pongkeru, Pasi-Pasi, dan Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Data Puskesmas menunjukkan jumlah balita stunting di Desa Laskap menurun dari lima kasus pada 2025 menjadi empat kasus pada 2026. Penurunan juga terjadi di Desa Pongkeru, dari sembilan menjadi enam kasus.

Sebaliknya, Desa Pasi-Pasi mengalami peningkatan. Jumlah kasus stunting bertambah dari tiga kasus pada 2025 menjadi tujuh kasus pada 2026.

Kepala UPTD Puskesmas Lampia, Samriani, mengatakan tidak seluruh kasus stunting dipicu kekurangan asupan gizi. Berdasarkan hasil pemantauan tenaga kesehatan, sebagian anak yang masuk kategori stunting memiliki penyakit bawaan yang memengaruhi pertumbuhan.

“Rata-rata anak yang masuk kategori stunting memiliki penyakit bawaan, seperti kelainan jantung, gangguan pernapasan, maupun kondisi lain yang memengaruhi berat badan dan tinggi badan,” kata Samriani saat ditemui di Warkop 355, Trans Jalur Dua, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Rabu (15/7/2026).

Menurut Samriani, penetapan status stunting dilakukan melalui pengukuran tinggi dan berat badan anak yang kemudian diinput ke aplikasi milik Kementerian Kesehatan. Sistem tersebut menentukan status gizi berdasarkan standar nasional.

“Jadi bukan semata-mata karena kurang gizi. Ada banyak faktor yang memengaruhi, termasuk penyakit bawaan yang dialami anak,” ujarnya.

Untuk menekan angka stunting, Puskesmas Lampia menjalankan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal sesuai standar gizi pemerintah. Program itu dilaksanakan bersama kader kesehatan yang mendistribusikan makanan tambahan langsung kepada sasaran.

PMT diberikan kepada bayi dan balita yang berat badannya tidak meningkat dalam dua kali penimbangan berturut-turut. Pemerintah desa juga memberikan dukungan berupa bantuan susu bagi anak yang membutuhkan.

Selain itu, Puskesmas Lampia menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) melalui kunjungan rumah. Pendataan dilakukan berdasarkan siklus hidup, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, hingga lanjut usia.

“Dengan sistem ini kami bisa mendeteksi lebih dini anak yang berisiko mengalami stunting maupun gizi kurang, sehingga penanganannya dapat dilakukan lebih cepat,” kata Samriani.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat terus diperkuat agar angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Lampia dapat terus ditekan.

“Kami berharap kerja sama seluruh pihak dapat terus terjalin sehingga angka stunting bisa mencapai nol atau zero stunting. Kami juga akan terus memaksimalkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujarnya.

UPTD Puskesmas Lampia saat ini menerapkan Integrasi Layanan Primer sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan berbasis siklus hidup, mulai dari masa kehamilan hingga usia lanjut. (Solihin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *