Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Sehari Jadi Penyanyi, Sehari Jadi Perias: Puskesmas Malili Rayakan Kemerdekaan dengan Lomba

25
×

Sehari Jadi Penyanyi, Sehari Jadi Perias: Puskesmas Malili Rayakan Kemerdekaan dengan Lomba

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM, — Pagi hari, pegawai Puskesmas Malili sibuk dengan lomba kebersihan. Siangnya, suasana berubah. Seragam kerja dan rutinitas pelayanan berganti dengan potongan lagu, kuas rias, serta gelak tawa.

Puskesmas Malili menggelar lomba sambung lirik dan merias wajah atau make up sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan berlangsung di depan Aula Usada Indah Puskesmas Malili, Jumat, 14 Agustus 2026.

Kepala Puskesmas Malili, Kiki Febriani, membuka kegiatan tersebut. Ia mengatakan perayaan kemerdekaan tidak harus selalu berlangsung formal. Bagi pegawai yang sehari-hari melayani masyarakat, lomba menjadi kesempatan untuk sejenak keluar dari rutinitas.

«“Perayaan kemerdekaan tidak melulu soal keseriusan. Ini juga momen untuk melepas penat, mempererat persaudaraan, dan menciptakan suasana kerja yang menyenangkan,” kata Kiki.»

Menurut dia, kesibukan pelayanan di puskesmas membuat pegawai hampir setiap hari berhadapan dengan pekerjaan dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, kegiatan perayaan HUT RI menjadi ruang untuk bersantai sekaligus memperkuat kekompakan internal.

Kiki berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perlombaan untuk mencari pemenang. “Mari kita hilangkan penat sejenak dan bergembira. Yang paling penting, kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi dan menjaga kekompakan,” ujarnya.

Pada lomba sambung lirik, peserta diuji spontanitasnya. Potongan lagu diputar secara acak, kemudian peserta harus melanjutkan lirik yang terhenti. Kesalahan kecil tak jarang memancing tawa, sementara jawaban tepat disambut tepuk tangan dan sorakan rekan kerja.

Lomba merias wajah menghadirkan suasana berbeda. Peserta menunjukkan kemampuan merias dengan tema bebas maupun nuansa kemerdekaan. Kreativitas, kerapian, dan keunikan tampilan menjadi bagian dari penilaian.

Sejumlah penampilan justru menjadi hiburan tersendiri bagi peserta dan penonton. Ada yang tampil serius mengejar hasil riasan terbaik, ada pula yang membuat suasana pecah karena gaya dan hasil riasannya.

Di tengah rutinitas pelayanan kesehatan, lomba itu menjadi jeda. Bukan sekadar mencari siapa yang paling hafal lirik atau paling piawai memegang kuas rias, melainkan cara pegawai Puskesmas Malili merayakan kemerdekaan dengan cara mereka sendiri: tertawa, bermain, dan tetap bersama. (Rama).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *