INPUTRAKYAT_BANTAENG,– Forum Intelektual Selatan Sulawesi (FISS) mengajak para pemuda bantaeng untuk bersama-sama menolak kegiatan pendakian upacara 17 agustus di area Gunung Bulu Bawakaraeng yang diketahui sangat bertentangan dengan kedudukan gunung tersebut, Senin, (13/08/2018)
Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Koordinator FISS Aslam Azis yang juga bertindak sebagai pembicara dalam kegiatan Sosialiasi Kerusakan Gunung Bulu Bawakaraeng di kantor Desa Kampala Kecamatan Eremerasa Kabupaten Bantaeng
“Upacara 17an tidak bisa diperkenankan hadir di area gunung bulu bawakaraeng. Karena keberadaannya sudah jelas sangat bertentangan dengan kedudukan gunung bawakaraeng yang sebenarnya telah berulang kali disampaikan secara terbuka di sejumlah forum,” kata Aslam
Dalam pemaparannya, penolakan itu didasarkan pada sejarah tempat tersebut yang lebih identik dengan tempat beribadah dan pendidikan.
“Penolakan itu dasarnya jelas karena menyimpang dari kedudukan gunung bawakaraeng. Sejarah dan adat terkait gunung bawakaraeng telah menerangkan kepada kita semua bahwa tempat itu adalah tempat yang identik dengan peribadahan atau pendidikan, bukan untuk bersenang-senang, sebagai komoditas atau ajang aktualiasasi yang keliru seperti melakukan upacara 17an dengan mengatasnamakan nasionalisme,” sambungnya
Terpisah, pemateri lainnya Muhammad Akbar Alamsyah mengutarakan bahwa keberadaan gunung bawakaraeng tidakkah bisa disamakan dengan gunung lainnya, baik dari sisi kondisi fisik seperti struktur batuannya dan sejarah atau adat yang terkait dengan tempat tersebut, sehingga perlakuan dan etika atau kunjungan beserta aktifitas yang berlangsung juga haruslah berbeda.
“Dari geologinya berbeda, sejarahnya juga berbeda sehingga etika atau perlakuannya juga harus berbeda. Jangan disamakan seperti gunung lainnya dengan mengunjunginya secara massif-sporadis hingga beribu-ribu orang,” ucapnya
Sementara itu, ditambahkannya bahwa rencana panutupan jalur pendakian gunung bawakaraeng oleh pihak pemda gowa melalui pemberitaan beberapa waktu yang lalu disebutnya lebih ditujukan untuk kegiatan yang bertentangan dengan kedudukan gunung bawakaraeng seperti kegiatan upacara 17an serta kegiatan hura-hura lainnya.
“Terkait rencana penutupan jalur gunung bawakaraeng melalui sejumlah pemberitaan beberapa waktu lalu, itu hanya ditujukan untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan kedudukan gunung bawakaraeng seperti pelaksanaan upacara 17an yang oleh teman-teman telah disampaikannya kepada pemerintah kabupaten gowa dan ditanggapinya secara positif dalam kegiatan seminar kemarin,” tambahnya
Sebelumnya, kegiatan sosialisasi ini hadir berkat kerjasama dengan Mahasasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unhas Gel.99 Desa Kampala Kecamatan Eremerasa dan Organisasi Pencinta Alam Kampala. Kegiatan tersebut dihadiri oleh puluhan pemuda dari beragam latar belakang organisasi, dengan menghadirkan tiga orang pembicara yakni Muhammad Akbar Alamsyah, Aslam Azis dan Nuratikah
“Tanggapan yang kami terima positif. Para pemuda di eremerasa memiliki kesepemahaman terkait persoalan bawakaraeng ini, dan bahkan mereka berharap agar persoalan ini dibawa ke tingkat kabupaten (Bantaeng), sehingga dapat mencakup seluruh pihak di seluruh daerah yang ada di kabupaten bantaeng, dengan alasan bahwa persoalan ini sangat penting sehingga harus diketahui seluruh masyarakat khususnya di kabupaten bantaeng,” tutup mahasiswa anthropologi unhas.(*)
Liputan:Freya | Editor:Noya














