Ilustrasi
INPUTRAKYAT_LUTIM,–Warga Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, mengeluhkan tagihan listrik yang membengkak.
Demikian halnya diungkapkan Sahar warga Desa Tokalimbo, Kecamatan Towuti kepada InputRakyat.co.id, Minggu (07/06/2020).
Menurut Sahar, biasanya saya membayar tagihan listrik setiap bulan hanya Rp 300 ribu, tetapi tadi saya bayar sampai Rp 2.286.159.
“Saya kaget kok bisa sampai pembayaran melonjak seperti ini, sementara pemakaian di rumah tidak terlalu banyak,” ujarnya lagi.
Oleh sebab itu, kami minta pemerintah daerah menyikapi persoalan ini, karena bukan hanya saya yang rasakan, banyak warga mengalami hal yang sama, pintanya.
Menanggapi hal itu, kepala ULP PLN Malili, Syamsuddin saat dihubungi melalui telepon genggamnya menjelaskan, bahwa persoalan ini diakibatkan pandemi covid-19.
Dimana dua bulan terakhir mulai Maret sampai April tidak dilakukan pencatatan, hal itu sesuai dengan instruksi PLN pusat, beber Syamsuddin.
Makanya kita buat perata-rataan pemakaian tiga bulan terakhir. Misalnya, pemakaian di bulan Januari sampai Maret diambil kemudian dijumlahkan lalu dirata-ratakan berapa kira-kira perbulan dipakai pelanggan, terangnya.
Artinya, hal itu dilakukan untuk pendekatan kebenaran meteran listrik yang ada di pelanggan, karena tidak ada cara lain makanya kita cari cara bagaimana ada pendekatan walaupun tidak benar ya’ paling tidak plus minus lah mungkin ada yang lebih atau kurang.
Lanjutnya, diakhir bulan Mei kita kembali diintruksikan untuk melakukan pencatatan ke pelanggan guna menghindari lonjakan tagihan, tetapi yang dikhawatirkan ya’ terjadi.
Sementara di bulan Maret sampai April kata dia, kami tidak melakukan pencatatan tetapi hanya pencatatan perata-rataan pemakaian tiga bulan terakhir, dengan dijumlahkan tiga bulan terakhir lalu dibagi tiga kemudian dirata-ratakan berapa pemakaian pelanggan perbulan.
Kenapa terjadi lonjakan? karena selama tidak dilakukan pencatatan, para pelanggan hanya membayar perbulan sesuai dengan perata-rataan.
“Kan kita tidak tahu berapa yang seharusnya dibayar pelanggan, karena kita tidak melakukan pencatatan di lapangan, nah’ adanya intruksi untuk kembali dilakukan pencatatan ternyata terjadi lonjakan pemakaian,” terangnya.
Seperti halnya di bulan Ramadhan kemarin, itu terjadi lonjakan pemakaian, karena pelanggan banyak menggunakan di malam hari sampai di waktu sahur ditambah lagi dengan adanya pandemi covid-19 sehingga masyarakat hanya beraktivitas di rumah, tutupnya.
Liputan: Amk | Editor: Redaksi.















