Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Lapor Pak Bupati! Ada Pasien Covid-19 di Sorowako Merasa Ditelantarkan

501
×

Lapor Pak Bupati! Ada Pasien Covid-19 di Sorowako Merasa Ditelantarkan

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Seorang ibu rumah tangga berinisial HA (45) warga Jl Pongkia, Desa Nikkel, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, merasa ditelantarkan pasca dinyatakan positif covid-19 dari hasil Swab.

Hal tersebut diungkapkan HA kepada InputRakyat.co.id melalui via telepon genggamnya, Senin (08/06/2020).

Kepada media ini, HA menceritakan kalau sebelumnya ia menjalani rapid test pada tanggal 28 Mei di RS Awal Bros Sorowako.

Namun selang beberapa hari pasca di rapid, ia kemudian di telepon dari dokter Rumah Sakit (RS) kalau dirinya dinyatakan reaktif, sekaligus diminta untuk menjalani karantina mandiri.

Tidak sampai disitu, pada tanggal 01 Juni dirinya kembali menjalani Swab di RS Awal Bros Sorowako.

Lima hari kemudian tepatnya tanggal 06 Juni, ia dikabari oleh dokter Rumah Sakit melalui via telepon kalau dirinya dinyatakan positif covid-19, lalu diminta bersiap-siap menjalani isolasi mandiri.

Malam harinya, saya kembali di telepon agar mempersiapkan diri untuk dijemput dan dibawa ke tempat isolasi mandiri.

“Saat itu ada dua pilihan tempat isolasi mandiri yang ditawarkan oleh pihak RS yakni Enggano dan Old Camp Sorowako,” terangnya.

Karena saya ingin pulih kata dia, saya hanya ikut perintah. Namun sayangnya sampai saat ini saya belum mendapatkan penanganan lebih lanjut.

“Yang datang tadi siang hanya pak Desa Nikkel, dan menyampaikan kalau ke dua tempat isolasi mandiri di Sorowako ful, lalu ia tawarkan ke saya untuk menjalani isolasi di RS I Lagaligo Wotu,” bebernya.

Seketika itu juga anak saya menolak dengan pertimbangan jarak yang sangat sangat jauh dari keluarga, sehingga sampai saat ini saya masih bertahan di rumah.

Menurutnya, ia tinggal di dalam rumah bersama kedua anaknya, sementara satu anaknya lagi di titip di rumah neneknya.

“Selama di rumah, saya selalu jaga jarak dengan anak-anak, dan setiap hari pula saya menggunakan kaos tangan agar tidak terjadi penularan virus corona,” ucapnya.

Lanjut HA, sejak dinyatakan positif covid-19, saya tidak pernah diperlihatkan atau diberikan surat keterangan bahwasanya saya positif, saya hanya diberi tahu hasilnya melalui via telepon.

Makanya saya bingung apakah saya ini betul-betul positif covid-19 atau tidak, namun yang pastinya saya merasa meriang dan terasa ada lendir di leher, tapi kan harus ada keterangan tertulis dari RS bahwasanya saya terjangkit virus corona, jelasnya.

Namun yang paling disayangkan adalah tidak adanya perhatian pemerintah daerah Lutim maupun tim gugus kabupaten kepada saya sejak dinyatakan positif.

“Seharusnya mereka datang memberikan vitamin ataukah sembako, kan tidak mungkin saya mau keluar rumah berbelanja,” tandas HA.

Kasus seperti ini kan harus ada tindak lanjut agar saya kembali pulih, tapi kalau begini kondisinya sama halnya pemerintah daerah mentelantarkan saya dan dibiarkan sembuh sendiri, tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan resmi dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Lutim terkait persoalan tersebut.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *