Foto: Wahyuddin Al Kadry (kiri), Taufan Pawe (kanan).
INPUTRAKYAT_LUTIM,–Budiman Hakim yang kini menjabat sebagai Bupati Luwu Timur resmi berlabuh di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Budiman Hakim menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kabupaten Luwu Timur, Sulsel.
Berlabuhnya Budiman di PDIP rupanya menuai respon pedas dari Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Taufan Pawe (TP).
Dilansir dari Tribun Timur, Taufan Pawe mengatakan, kalau pilihan Budiman ke PDIP merupakan bentuk pencederaan politik bagi Partai Golkar.
“Kami Golkar dewasa melihatnya, itu pencederaan politik,” kata Taufan Pawe.
Menurutnya, Budiman awalnya adalah seorang birokrat Pemkab Lutim atau bawahan Muh Thoriq Husler.
Semasa hidupnya Thoriq adalah Bupati Luwu Timur sekaligus Ketua DPD II Golkar Luwu Timur.
Lanjutnya lagi, Budiman maju Pilkada Luwu Timur atas ajakan Thoriq Husler. Setelah Thoriq meninggal sebelum pelantikan, Budiman otomatis menjadi bupati.
Partai Golkar adalah pengusung utama pasangan Muh Thoriq Husler-Budiman di Pilkada Luwu Timur. Bahkan Golkar mengusung dalam posisi cukup, jelas TP.
“Budiman diusung oleh Partai Golkar, Golkar utuh sebagai partai pengusung, tapi kenyataannya seperti itu, ya kita lihat saja perjalanan politik ke depan,” ujarnya.
“Dia itu awalnya tidak ada apa-apanya, dia itu birokrat, Golkar yang ajak gabung maju Pilkada. Golkar melihat ini pembelajaran berat,” tambah Taufan Pawe.
Bukannya bergabung di Golkar, Bupati Luwu Timur Budiman Hakim memutuskan bergabung jadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), katanya.
Menangapi pernyataan itu, Wahyuddin Al Kadry selaku Sekretaris Tim Pemenangan Kabupaten Husler-Budiman justru menilai Taufan Pawe terlalu lebay dan sombong, ungkapnya kepada media ini, Minggu (25/04/2021).
Dijelaskan Tom sapaan akrab Wahyuddin Al Kadry, sikap Budiman ke PDIP adalah kesepakatan bersama antara Almarhum Muh. Thorig Husler dengan Budiman dan pengurus PDIP Sulsel.
Karena ini kesepakatan maka komitmen ini harus tetap dijalankan oleh Budiman. Dan tidak boleh TP menganggap ini sebagai bentuk penghianatan terhadap Partai Golkar, kata Tom.
“Justru Budiman yang akan dianggap tidak konsisten jika mengkhianati kesepakan tersebut,” sambungnya lagi.
Lanjutnya, meski Partai Golkar bisa mengusung Paslon sendiri tampa berkoalisi, tapi harus disadari oleh TP Bahwa kemenangan pasangan Husler-Budiman di Pilkada Lutim adalah buah dari kerja keras dan kerja cerdas dari semua komponen.
“Mulai dari Paslon, Tim Pemenangan, relawan dan seluruh partai politik pengusung dan Parpol pendukung. Dan kemenangan ini tidak boleh diklaim sepihak sebagai usaha, murni Partai Golkar,” ujarnya.
Sebagai mantan sekretaris Tim Pemenangan Husler Budiman, saya tidak melihat andil besar dari TP dan pengurus Partai Golkar Sulsel dalam usaha memenangkan pasangan Husler Budiman.
Bahkan kata dia, Anggota DPR RI dan DPRD Sulsel dari dapil 3 dan 11 tidak pernah kami temukan di lapangan membantu kerja-kerja pemenangan.
“Komentar TP tentang Budiman yang tidak ada apa-apanya adalah bentuk kesombongan. Mestinya sebagai seorang pemimpin harus menjauhkan diri dari sikap sombong karena sikap ini sangat tidak disukai oleh Allah SWT,” tegasnya.
Apalagi kapasitas dan kecerdasan Budiman saat sosialisasi dan kampanye terutama saat live debat publik, dirasakan memberi pengaruh electoral yang sangat baik dan memberi dampak pada kemenangan pasangan Husler-Budiman, ucap Tom.
Masih dikatakannya, bahwa sebagai politisi yang merasa senior dan matang, mestinya TP harus memahami kondisi ini dan mengajak Budiman untuk bicara tentang masa depan Partai Golkar Lutim setelah ditinggal Almarhum Thorig Husler. Termasuk mengkompromikan siapa yang bakal mengisi jabatan Ketua DPRD dan Ketua DPD Partai Golkar Lutim.
Selain itu, Partai Golkar seharusnya memilih figur ketua Golkar dan Ketua DPRD Lutim yang memiliki kedekatan khusus dengan Budiman, agar figur yang dimaksud dapat setiap saat membangun sinergi dengan Budiman yang dapat memberi keuntungan politik bagi Partai Golkar. Bukan malah mengajak teman-teman anggota fraksi Golkar DPRD Lutim, termasuk ketua DPRD Lutim kelak, untuk berhadap-hadapan dengan Budiman dalam menjalankan pemerintahannya.
“Karena kalau itu yang dilakukan TP maka saya sangat yakin akan terjadi gelombang besar kader yang memilih keluar dari partai Golkar, bahkan mungkin sebagian besarnya akan memilih bergabung dengan PDIP dan kalau itu terjadi tentu akan menjadi malapetaka partai Golkar di Lutim,” kuncinya.
Liputan: Amk | Editor: Redaksi.














