Example 728x250
Example 728x250
Input Sulbar

Prevalensi Stunting Naik 4,9%, Komisi IX DPR-RI Kunjungi Majene

625
×

Prevalensi Stunting Naik 4,9%, Komisi IX DPR-RI Kunjungi Majene

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_MAJENE,–Majene menjadi kabupaten dengan angka stunting tertinggi di Sulawesi Barat dengan persentase 40,6 persen pada 2022. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi stunting di kabupaten itu mengalami kenaikan  4,9 persen dibanding 2021.

Melihat kondisi tersebut, anggota Komisi IX DPR RI, Hj. Andi Ruskati Ali Baal, memilih Kabupaten Majene sebagai lokus kegiatan Promosi dan KIE Percepatan Penurunan Stunting, Senin (30/10/2023). Tepatnya berlokasi di Tanjung Batu, Kelurahan Labuang, Kecamatan Banggae Timur.

Pada kesempatan tersebut anggota DPR RI itu menyampaikan kepada masyarakat Majene bahwa berdasarkan UU No. 16 tahun 2019 tentang perkawinan, batas umur menikah adalah 19 tahun. Sedangkan BKKBN menghimbau agar menikah bagi perempuan pada usia 21 tahun dan  laki-laki 25 tahun.

Perkawinan di usia ideal ini akan membawa Indonesia menjadi negara bebas stunting. “Kepada ibu hamil agar istirahat yang cukup, makan vitamin, dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan di posyandu. Jika memungkinkan agar melakukan pemeriksaan dokter tiap bulan, demi melahirkan anak-anak yang bebas dari stunting,” ungkap Andi Ruskati.

Andi Ruskati juga menyampaikan bahwa bantuan telah banyak disalurkan, tapi kurang pengawasan. Contohnya, bantuan telur untuk keluarga risiko stunting. Bantuan ini banyak dibagikan namun digunakan buat yang lain. Bahkan ada yang dijual ulang untuk dibelikan makanan instan.

Edwin Bara, Ketua Tim Kerja Pelatihan BKKBN Sulbar, yang hadir mewakili Kepala Perwakilan BKKBN Sulbar menyampaikan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi penyakit berulang. Terutama sejak dalam kandungan hingga anak usia di bawah dua tahun atau di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Kekurangan gizi dapat terjadi karena pola asuh yang kurang tepat dalam pemberian makan balita, baik dari jumlah dan jenisnya serta lingkungan yang tidak bersih menyebabkan balita terpapar kuman dan bakteri,” kata Edwin.

Sementara itu, Kepala Dinas PP dan KB Kabupaten Majene, Hj. Hasnawati, juga mengatakan kepada masyarakat Majene agar kembali  menerapkan pola hidup sehat, ibu memasak makanan bergizi di rumah, bapak mencari nafkah. “Jika ada remaja usia muda, tolong ditunda dulu nikahnya, karena berpotensi memunculkan  stunting baru pada anak yang dilahirkan,” ujarnya.

Liputan: Rezky | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *