INPUTRAKYAT_MAJENE,–Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar rapat koordinasi percepatan penurunan stunting Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) di Ballroom Grand Maleo Hotel & Convention Jl Yos Sudarso, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Kamis, (30/11/2023).
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengadakan rapat koordinasi strategis di Mamuju, Sulawesi Barat, guna mempercepat penurunan angka stunting. Acara dihadiri oleh Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo, Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar Muhammad Idris, Wakil Bupati Majene serta PLT Kepala BKKBN Perwakilan Sulbar, Resky Murwanto, bersama 120 undangan lainnya.
Hasto Wardoyo menekankan perlunya keseriusan dari berbagai pihak, termasuk BKKBN, Dinas Kesehatan, dan kepala daerah Sulbar, untuk mengatasi tantangan besar menurunkan angka stunting di daerah tersebut. Dia mengidentifikasi faktor sensitif seperti kemiskinan, pendidikan, sanitasi, dan air bersih sebagai penyebab tingginya angka stunting.
Muhammad Idris menjelaskan, komitmen pemerintah daerah Sulbar melalui program 4+1, yang mencakup stunting, angka putus sekolah, pernikahan usia dini, kemiskinan ekstrim, dan inflasi. Meskipun angka stunting di Sulbar mencapai 35 persen, PLT Kepala BKKBN Sulbar, Resky Murwanto, optimis bahwa dengan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media, angka stunting dapat turun pada tahun 2023.
BKKBN menugaskan 2859 tim pendamping keluarga di Sulbar, dengan fokus pada keluarga berisiko stunting, seperti calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca salin, dan bayi di bawah dua tahun (Baduta). Dari 305.510 keluarga di Sulbar, sebanyak 101.638 keluarga terancam stunting, menjadikan penanganan pada kelompok ini sebagai prioritas utama BKKBN.
Liputan: Rezky | Editor: Redaksi.














