Example 728x250
Example 728x250
Input Sulteng

Budidaya Lobster, Pemcam Petasia dan Dinas Perikanan Morut Adopsi Metode Vietnam

1419
×

Budidaya Lobster, Pemcam Petasia dan Dinas Perikanan Morut Adopsi Metode Vietnam

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_MORUT,–Pemerintah Kecamatan Petasia bersama Dinas Perikanan Kabupaten Morowali Utara, membudidayakan lobster sebagai pilot projeck di Desa Gililana.

Camat Petasia, Novrianto Najamudin mengatakan, bahwa sistem yang kita lakukan untuk budidaya lobster ini yakni dengan mengadopsi metode Vietnam, ungkapnya, Kamis (25/1/2024).

Dengan cara kata dia, keramba apung lobster dengan bentuk krangkeng kita gantung atau melayang diatas dasar laut, ya sekitar kedalaman 3 meter dari permukaan laut.

“Yang saya lihat di Indonesia kebanyakan keramba apung mereka simpan dipasir atau kedalaman tertentu dekat dengan karang, makanya kita coba dulu cara lain dengan mengadopsi dari Vietnam,” ujarnya.

Alhasil lanjutnya, sejauh ini sudah empat minggu kegiatan itu dilaksanakan, dan perkembangan benih lobster itu masih sangat bagus sampai saat ini.

“Saat ini bibit lobster kita sudah mencapai 200 ekor, dan kita upayakan bulan ini sudah mencapai 1000 ekor, dan bibit itu bersumber dari bibit alam yang kita ambil dari masyarakat,” ketusnya.

Lanjutnya, yang kita inginkan sebenarnya kalau pariwisata Teluk Tomori berhasil, ada brend yang muncul ketika kita berkunjung ke Morowali Utara melihat Teluk Tomori lalu berwisata ke tempat Teluk Tomori tentu disana ada lobster yang bisa menjadi daya tarik pengunjung atau wisatawan.

“Ini lah yang kita coba kolaborasikan pengembangannya dari objek wisata, nah kalau ini berhasil dengan jumlah yang banyak tidak menutup kemungkinan kan nelayan yang ada di Teluk Tomori bisa menjadi pengekspor atau salah satu penghasil lobster di Indonesia,” jelasnya.

“Tetapi langkah awal jika ini berhasil, kita menyentuh terlebih dahulu pasar yang ada di Morowali Utara. Kan daerah ini banyak perusahaan ini bisa kita manfaatkan, dengan sendirinya dapat mendongkrak perekonomian masyarakat nelayan yang ada di wilayah pesisir,” sambungnya lagi.

Menurutnya, kenapa kita menyentuh budidaya loubster karena kosnya kecil tapi nilai ekonomisnya tinggi dan bahan makanan juga ada disekitar kita seperti kerang-kerang laut, tiram dan lain-lain.

Disinggung kehadiran tambang apakah dapat mempengaruhi pengembangan loubster nantinya kata Novri, nah terkait hadirnya pertambangan saya belum bisa mengatakan apakah mempengaruhi atau tidak, karena saya belum dapat hasil penelitiannya, tetapi realitanya saat ini ikan kita di laut sudah mulai berkurang.

“Namun dengan hadirnya pemberdayaan budidaya lobster ini mudah-mudahan bisa menutupi kekurangan penghasilan masyarakat nelayan kita nantinya,” tandas Novri.

Ia menambahkan, harapan kita bagaimana pilot projeck ini berhasil agar kedepan Morowali Utara bisa juga sebagai salah satu lumbung atau penghasil lobster di Indonesia.

Sekedar informasi, dilansir dari berbagai sumber menyebut jika di perairan Indonesia, setidaknya ada beberapa jenis lobster air laut yang cukup terkenal dan banyak dikonsumsi, mulai dari lobster jenis batu, lobster pakistan, lobster pasir, lobster bambu, lobster batik, hingga lobster mutiara. Di antara berbagai jenis lobster air laut tersebut, kabarnya lobster mutiara adalah jenis yang harganya termahal.

Lalu berapa harga lobster air laut saat ini?

1. Lobster pakistan Rp 270.000 per kg
2. Lobster batu Rp 355.000 – Rp400.000 per kg
3. Lobster bambu Rp 370.000 per kg
4. Lobster batik Rp 400.000 per kg
5. Lobster mutiara frozen Rp 420.000 per kg
6. Lobster pasir Rp 460.000 per kg
7. Lobster mutiara hidup Rp 1.400.000 – Rp 3.024.000 per kg.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *