INPUTRAKYAT_LUTIM,–Berdasarkan data yang dirangkum, pertumbuhan ekonomi era kepimpinan Budiman – Akbar di Tahun 2023 naik 9 persen, sedangkan di era Irwan Bachri Syam – Puspawati Husler di Tahun 2025, hanya mengalami kenaikan 3,7 persen.
Lalu bagaimana angka kemiskinan?
Meski angka pertumbuhan ekonomi berhasil didongkrak 9 persen pada era Budiman – Akbar menahkodai Luwu Timur, namun angka kemiskinan ternyata ikut pula naik sekitar 680 jiwa.
Sementara kepimpinan Ibas – Puspa saat ini yang hanya mendongrak pertumbuhan ekonomi 3,7 persen tetapi berhasil menekan angka kemiskinan mencapai 2.100 jiwa.
Sekilas terlihat kontradiktif. Tapi secara ekonomi, berikut penjelasannya
Afrianto, M.Si salah satu kandidat doktor ilmu ekonomi UNHAS Makassar mengatakan, analisis Perbandingan 2023 dan 2025 : data ini menunjukkan dinamika yang menarik dalam hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat kemiskinan, ungkapnya, Minggu (1/3/2026).
“Pada tahun 2023, ekonomi tumbuh relatif tinggi sebesar 9 persen, namun jumlah penduduk miskin justru meningkat sebanyak 680 jiwa. Sebaliknya, pada tahun 2025, ketika pertumbuhan ekonomi tercatat lebih moderat sebesar 3,7 persen, angka kemiskinan mengalami penurunan signifikan sebesar 2.100 jiwa,” bebernya.
Secara empiris lanjutnya, fenomena ini menegaskan bahwa hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan tidak bersifat linear. Tingginya laju pertumbuhan tidak selalu berkorelasi langsung dengan penurunan kemiskinan apabila pertumbuhan tersebut tidak bersifat inklusif.
“Pertumbuhan ekonomi sebesar 9 persen pada 2023 ditopang oleh sektor yang bersifat padat modal, seperti industri ekstraktif atau komoditas berorientasi ekspor. Sektor semacam ini berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tetapi relatif terbatas dalam menyerap tenaga kerja, khususnya kelompok berpendapatan rendah,” ujar Afri yang juga dosen Universitas Mega Buana Palopo.
Menurutnya, dalam literatur ekonomi pembangunan, kondisi ini sering disebut sebagai pertumbuhan non-inklusif, di mana ekspansi output tidak diikuti perluasan kesempatan kerja yang merata.
“Sebaliknya, pertumbuhan 3,7 persen pada 2025 dapat diasumsikan lebih tersebar pada sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan rumah tangga, seperti pertanian, perdagangan, jasa, atau usaha mikro dan kecil. Sektor-sektor tersebut umumnya memiliki daya serap tenaga kerja yang lebih tinggi dan berdampak langsung pada pendapatan kelompok bawah,” tambahnya.














