INPUTRAKYAT_LUTIM,—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Luwu Timur, terus melakukan upaya penguatan mitigasi dan penanggulangan bencana.
Tahun ini, telah dibentuk Posko Crisis Center sebagai pusat kendali informasi dan respon cepat, sekaligus memprogramkan sekolah edukasi bencana guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini.
Langkah strategis ini dibentuk BPBD Lutim sebagai tindaklanjut menjalankan Program Kerja Prioritas (KP1) kepala daerah dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih terintegrasi, responsif, dan berbasis edukasi.
Kepala BPBD Luwu Timur, dr. April mengatakan, bahwa pembentukan Crisis Center merupakan jawaban atas kebutuhan koordinasi yang lebih cepat dan akurat saat terjadi bencana. Selama ini, keterlambatan informasi dan koordinasi kerap menjadi tantangan dalam penanganan di lapangan, ungkapnya, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, Crisis Center ini akan menjadi pusat data dan informasi, sekaligus ruang kendali operasi saat terjadi bencana. Semua laporan, pemetaan wilayah terdampak, hingga distribusi bantuan akan terintegrasi dalam satu sistem.
“Crisis Center dirancang bekerja selama 24 jam dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari tim reaksi cepat BPBD, relawan, hingga koordinasi lintas instansi seperti TNI, Polri, dan dinas terkait. Selain itu, sistem ini juga akan terhubung dengan layanan pelaporan masyarakat lewat call center yang kita siapkan sehingga informasi dari warga dapat langsung ditindaklanjuti secara cepat,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada penanganan saat bencana kata April, kita juga akan melaksanakan kegiatan pencegahan sejak dini melalui program sekolah edukasi bencana, tahun ini.
“Program ini menyasar pelajar mulai dari SD sampai SMP sebagai generasi yang dinilai strategis dalam membangun budaya sadar bencana,” terangnya.
“Nanti itu, para pelajar akan diberi materi edukasi, hingga simulasi penanganan darurat. Kurikulum edukasi ini dikemas secara interaktif agar mudah dipahami oleh siswa,” sambungnya lagi.
Kata April, edukasi ini adalah kunci. Kita ingin anak-anak kita tidak panik saat terjadi bencana, tetapi justru tahu apa yang harus dilakukan. Mereka juga bisa menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi semua pihak, termasuk masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk aktif mengikuti sosialisasi dan tidak ragu melaporkan potensi bencana di wilayah masing-masing.
“Hadirnya dua program ini, kami optimistis dapat membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh, sekaligus menciptakan masyarakat yang siap, siaga, dan tanggap dalam menghadapi berbagai potensi bencana,” pungkasnya.














