Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Peringati Hari Sumpah Pemuda, UPT SDN 183 Buyuntana Gelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual

135
×

Peringati Hari Sumpah Pemuda, UPT SDN 183 Buyuntana Gelar Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,—Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, UPT SDN 183 Buyuntana, Desa Bangun Karya, Kecamatan Tomoni, Kabupaten Luwu Timur, menggelar sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan sekolah, Rabu (28/10/2026).

Berbeda dari peringatan pada umumnya, kegiatan ini difokuskan pada edukasi kepada orang tua atau wali siswa serta pihak terkait tentang pentingnya perlindungan anak dari segala bentuk kekerasan seksual, sekaligus membangun kesadaran bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah anak.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni psikolog Reski Ayu Noviana, M.Psi., Kanit Reskrim Polsek Mangkutana Ipda Kasman, S.H., perwakilan Kecamatan Tomoni Surnaeni, serta Pemerintah Desa Bangun Karya Roy Gozal. Sosialisasi ini juga diikuti para orang tua siswa.

Dalam pemaparannya, Kanit Reskrim Polsek Mangkutana, Ipda Kasman, S.H., menegaskan bahwa kekerasan seksual terhadap anak merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele ataupun ditutupi.

Ia menekankan pentingnya peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam meningkatkan pengawasan serta memberikan perlindungan kepada anak dari tindakan kekerasan, pelecehan, ancaman, maupun bujuk rayu yang mengarah pada kekerasan seksual.

Menurutnya, anak perlu dibekali pemahaman agar berani mengatakan tidak terhadap perlakuan yang membuat mereka tidak nyaman, menjauh dari situasi yang berisiko, serta segera melapor kepada orang dewasa yang dipercaya.

Kasman juga mengingatkan agar setiap dugaan kekerasan seksual tidak diselesaikan secara sepihak atau ditutupi.

Kasus semacam ini perlu dilaporkan kepada pihak berwenang agar ditangani sesuai prosedur yang berlaku.

“Hal yang paling penting adalah melindungi korban, menjaga kerahasiaan identitasnya, dan tidak menyalahkan anak yang menjadi korban,” menjadi salah satu penekanan dalam materi yang disampaikannya.

Sementara itu, psikolog Reski Ayu Noviana, M.Psi., menjelaskan bahwa anak tidak selalu mampu memahami atau mengungkapkan secara langsung ketika mengalami kekerasan seksual.

Karena itu, orang dewasa perlu peka terhadap perubahan perilaku anak yang bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang menghadapi masalah.

Perubahan tersebut dapat berupa anak yang menjadi lebih pendiam, takut terhadap seseorang, mudah menangis, menarik diri dari lingkungan, mengalami perubahan pola tidur atau belajar, hingga menunjukkan perilaku yang tidak biasa.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan edukasi kepada anak mengenai batasan tubuh dan bagian tubuh pribadi. Anak harus memahami bahwa tubuh mereka berharga, harus dihormati, dan tidak boleh disentuh secara tidak pantas oleh siapa pun.

Selain itu, anak perlu diyakinkan bahwa mereka tetap boleh menceritakan pengalaman yang membuat tidak nyaman, meskipun ada seseorang yang meminta mereka merahasiakannya.

Reski mengingatkan bahwa ketika anak mulai bercerita, orang tua dan guru harus mendengarkan dengan tenang, memberikan kepercayaan, serta tidak menghakimi ataupun menyalahkan anak.

Menurutnya, penanganan kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya berkaitan dengan aspek hukum, tetapi juga membutuhkan pemulihan psikologis dan jaminan rasa aman bagi korban.

Kepala UPT SDN 183 Buyuntana, Rismasari, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah untuk memberikan edukasi kepada orang tua sekaligus memastikan setiap anak merasa aman dan nyaman selama berada di lingkungan sekolah.

Ia berharap sosialisasi ini tidak berhenti sebatas penyampaian materi, tetapi menjadi langkah nyata dalam membangun kepedulian dan komitmen bersama untuk melindungi peserta didik.

“Sebagai kepala sekolah, saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi sebuah sosialisasi, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun komitmen bersama untuk melindungi anak-anak kita,” ujarnya.

Rismasari menegaskan bahwa pencegahan dan penanganan kekerasan seksual membutuhkan kerja sama antara pihak sekolah, orang tua, masyarakat, serta instansi terkait.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kepedulian, membangun komunikasi yang baik dengan anak, dan bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, ramah anak, serta bebas dari segala bentuk kekerasan.

Sebagai penutup, kegiatan dilanjutkan dengan pernyataan komitmen bersama antara pihak sekolah, orang tua siswa, dan seluruh pihak terkait dalam mendukung pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di lingkungan UPT SDN 183 Buyuntana.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran seluruh pihak terhadap pentingnya perlindungan anak semakin meningkat.

Momentum Hari Sumpah Pemuda pun menjadi pengingat bahwa semangat persatuan dan gotong royong dapat diwujudkan melalui kepedulian bersama dalam menjaga generasi penerus bangsa. (Solihin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *