Example 728x250
Example 728x250
Input Metro

Gara-Gara Grab dan GO-Jek 1700 Pete-Pete Makassar Menghilang

1554
×

Gara-Gara Grab dan GO-Jek 1700 Pete-Pete Makassar Menghilang

Sebarkan artikel ini
ket: ketua Organda Kota Makassar Zaenal Abidin (Kanan) menerim laporan dari sopir pete-pete di terminal Malengkeri Makassar (Taken by fre)

INPUTRAKYAT_MAKASSAR—Jum’at (30/11/18) Permasalahan antara angkutan umum dan  angkutan berbasis aplikasi atau taksi on-line, terus mengalur. Salah satu penyebabnya adalah belum adanya regulasi dari pemerintah untuk angkutan berbasis aplikasi seperti plat kuning dan jalur khusus angkutan aplikasi membuat sopir taksi on-line bebas masuk ke jalur mana saja termasuk jalur khusus pete-pete .

Hal ini membuat angkutan konvensional mulai di tinggalkan penumpang yang beralih ke taksi on-line. Banyak sopir yang mulai meningalkan pete-petenya karena pendapatan yang berkurang. Alhasil pete-pete pun mulai menghilang dari kota Makassar.

Ketua Organda kota Makassar Zaenal Abidin mengatakan jumlah angkutan umum atau pete-pete berkurang drastis hingga 40 persen. “jumlah angkutan umum yang beroperasi sekarang sekitar 2500 dari jumlah sebelumnya 4100 jumlah tersebut menurun karena adanya taksi online yang beroperasi tanpa regulasi banyak trayek atau jalurnya pete-pete dia ambil” Ungkap Zaenal.

Salah satu sopir Hasanuddin menyebut banyak kawannya sesama sopir yang pindah profesi karena tidak bisa mendapatkan penghasilan yang cukup “berkurang sekali biaaa dapat 80 sekarang sisa 40 Gara-gara itu Grab” cetus Hasanuddin.

sopir lainnya Irfan memilih bertahan karena tidak memiliki pekerjaan lain, ia hanya berharap pemerintah bisa memberikan solusi bagi pete-pete agar tidak menghilang “Kita berharap itu grab di kasj aturan juga kayak kita ini pete-pete ada jalurnya, ada plat kuning juga kan kita membayar ke terminal kalo grab sama Go-jek kan tidak ada begitu-begitu” jelas Irfan

Sebanyak seribu tujuh ratus angkutan umum menghilang dari jalanan kota Makassar para sopir angkutan umum memilih berhenti beroperasi karena kurangnya penumpang. Alhasil para pengusaha angkutan umum merugi dan memilih memusiumkan pete-pete mereka.

Liputan: Freeya |Edito : AMK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *