INPUTRAKYAT_MAKASSAR,–Suasana Kota Makassar berubah mencekam pada Jumat (29/8/2025) malam hingga Sabtu dini hari.
Kericuhan yang awalnya pecah di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), menjalar hingga ke jantung pemerintahan.
Massa yang bergerak tanpa kendali membakar sejumlah fasilitas vital, termasuk Gedung DPRD Kota Makassar, DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, dan kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel.
Sekitar pukul 22.40 WITA, api pertama kali berkobar di halaman Gedung DPRD Kota Makassar, Jalan AP Pettarani. Sumber api berasal dari sebuah mobil yang disulut massa. Kobaran itu kemudian merembet ke bangunan utama.
“Awalnya hanya satu mobil yang dibakar, tapi api langsung menyambar ke gedung. Saya dengar ada beberapa kali ledakan, mungkin dari tangki kendaraan,” kata Rizal (32), seorang saksi mata di lokasi.
Tak berhenti di situ, massa yang bergerak ke arah Kantor DPRD Provinsi Sulsel di Jalan Urip Sumoharjo semakin brutal.
Sekitar pukul 00.35 WITA, pos jaga dan beberapa kendaraan dinas di depan kantor DPRD Sulsel dibakar. Bahkan, saksi menyebutkan gedung utama ikut dilempari bom molotov.
“Mereka teriak-teriak ‘revolusi, revolusi’ sambil melempar botol berisi bensin. Gedung DPRD Sulsel langsung terbakar sebagian,”ujar Andi Fikri (27), warga yang menyaksikan kejadian itu.
Amukan massa juga merambah Kantor Kejati Sulsel. Sekitar pukul 22.25 WITA, sejumlah mobil yang terparkir di halaman ikut dilalap api. Api sempat menjalar ke bagian gedung.
“Ada sekitar tujuh mobil terbakar. Api masih menyala lama karena damkar susah masuk, jalanan macet parah,”ungkap **Edo (29), saksi di lokasi.
Pihak Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar mengaku terkendala akses menuju lokasi. Kepala Dinas Damkar Makassar, Muhammad Yusuf, mengatakan pasukannya terhambat padatnya lalu lintas.
“Kami sudah kerahkan beberapa unit, tapi aksesnya tertutup massa dan kendaraan. Petugas kami juga harus ekstra hati-hati karena situasi belum kondusif,” jelasnya.
Sementara itu, hingga api melahap gedung-gedung vital tersebut, aparat keamanan nyaris tidak terlihat di lokasi. Kondisi ini membuat warga sekitar panik dan memilih menjauh.
“Kami takut api makin besar, jadi terpaksa mengungsi sementara. Polisi juga tidak kelihatan, padahal situasi sudah darurat,” kata Nurhayati (45), warga yang tinggal tak jauh dari DPRD Kota Makassar.
Hingga Sabtu dini hari, situasi di sekitar Pettarani dan Urip Sumoharjo masih dipenuhi asap tebal. Suara ledakan sesekali terdengar, sementara massa tetap berkerumun dengan teriakan yang semakin lantang.
Peristiwa ini menandai salah satu kerusuhan terbesar di Makassar dalam beberapa tahun terakhir, dengan simbol-simbol pemerintahan daerah menjadi sasaran amuk massa.














