INPUTRAKYAT_LUTIM,–Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional (Hardiknas). Tujuannya, untuk memotivasi masyarakat Indonesia dalam mendukung dan memajukan sistem pendidikan demi masa depan yang lebih cerah.
Selain itu, juga mengingatkan kita untuk senantiasa memberikan pendidikan yang berkualitas pada setiap anak bangsa selaku penerus sekaligus sebagai pondasi bangsa.
Pendidikan tidak hanya memotori ilmu dan pengetahuan, melainkan juga sebagai pembentuk karakter seorang individu agar dapat menjadi pribadi yang bijaksana, dan sadar akan kemampuan potensi yang terdapat dalam dirinya.
Menurut Maulido, et al (2024) pendidikan tidak sebatas memperkuat aspek kognitif saja tetapi juga aspek afektif dan spiritual dalam pembentukan individu secara menyeluruh. Selain itu, pendidikan juga merupakan salah satu bentuk fasilitas yang diberikan oleh negara terhadap warga negaranya.
Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional sebagai jaminan dalam mendapatkan kesempatan pendidikan dengan kualitas pendidikan yang merata.
Lalu bagaimana kondisi dunia pendidikan di Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, saat ini, khususnya di wilayah terpencil. Yuk’ kita intip potret kualitas pendidikannya yang berhasil dirangkum media ini.
Saat ini masih terdapat enam sekolah di Kabupaten Luwu Timur yang berada di wilayah terpencil, dan statusnya merupakan kelas jauh.
Ke enam sekolah tersebut yakni kelas jauh SDN 107 Lagego di wilayah Buntu Lumu, kelas jauh SDN 227 Tarabbi (Dandawasu), kelas jauh SDN 108 Saele (Sanggona), kelas jauh SDN Majalejje (Lembokodi), kelas jauh SDN Bonepute (Batu Sambo) dan kelas jauh SDN 278 Tokalimbo (Tolere).
Terjadinya ketimpangan pendidikan terhadap ke enam sekolah tersebut disebabkan beberapa faktor utama yang berawal dari permasalahan mendasar seperti keterbatasan akses dan infrastruktur pendidikan yang belum memadai.
Dari enam sekolah itu, masih terdapat beberapa sekolah yang perlu sentuhan atau menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah daerah kabupaten Luwu Timur mulai dari infrastruktur hingga pemerataan tenaga pendidik, diantaranya kelas jauh SDN Bonepute di Batu Sambo, kelas jauh SDN 227 Tarabbi di Dandawasu dan kelas jauh SDN Majalejje di Lembokodi.
Sedikit gambaran untuk kelas jauh SDN Bonepute tepatnya di wilayah Batu Sambo yang berada di wilayah pegunungan. Untuk menuju ke sekolah tersebut, kita hanya bisa menggunakan sepeda motor, kemudian melintasi jalan yang rusak parah dengan jarak tempuh sejauh 15 kilo meter.
Sepanjang perjalanan, kita tidak akan menjumpai pemukiman warga, melainkan hanya melintasi perkebunan warga serta area hutan belantara.

Kelas jauh SDN Bonepute ini memiliki tiga RKB yang berukuran cukup kecil berdinding beton, beratap seng dan lantai belum tersentuh kramik. Setiap ruang kelas di sekat menjadi dua sehingga mencakupi enam RKB.
Sementara kelas jauh SDN 227 Tarabbi tepatnya di wilayah Dandawasu, tampak dari luar bangun RKB tersebut cukup bagus, namun terdapat beberapa daun jendela rusak, begitu pula lantai kelas sehingga berdebu saat siswa sedang belajar. Demikian halnya kelas jauh SDN Majalejje di Lembokodi.


Kepala Bidang Pembinaan SD dan SMP, Dinas Pendidikan Luwu Timur, Agus Saman mengatakan, untuk ke tiga kelas jauh tersebut rencananya tahun ini akan dikucurkan anggaran untuk rehab bangunan RKB, ungkapnya.
“Sementara bangunan ketiga kelas jauh lainnya yakni kelas jauh SDN 107 Lagego (Buntu Lumu), kelas jauh SDN 108 Saele (Sanggona) dan kelas jauh SDN 278 Tokalimbo (Tolere) kondisinya masih bagus, karena sudah direhab,” jelas Agus.
Ia menjelaskan, kelas jauh tersebut hanya memiliki tiga bangunan RKB, dan setiap RKB dibagi menjadi dua untuk mencukupi enam RKB. Hal ini cukup memadahi karena rata-rata kelas jauh tersebut hanya memiliki 20 orang siswa.
Meski begitu kata Agus, berbicara soal kualitas pendidikan bagi sekolah di wilayah terpencil, memang harus diakui agak cukup kurang ketimbang sekolah yang berada di kota, disebabkan minimnya infrastruktur dan keterbatasan akses serta kurangnya tenaga pendidik.
“Saat ini setiap sekolah kelas jauh tersebut terdapat satu guru yang menetap berstatus upah jasa, sementara guru yang berada di sekolah induk agak sulit setiap saat harus bolak balik ke kelas jauh lantaran keterbatasan akses dan kondisi jalan yang tidak memungkinkan berkendara sepeda motor,” ujarnya.
“Solusinya adalah perlu dilakukan pemerataan tenaga pengajar. Saat ini guru yang berstatus upah jasa semuanya lulus sebagai pegawai PPPK termasuk guru yang menetap di kelas jauh tersebut, dan kita rencana usulkan agar guru yang sudah lulus ini ditempat tugaskan sebagian di sekolah kelas jauh,” sambungnya lagi.
Meski begitu tambahnya, terlebih dahulu kita usulkan pembangunan rumah dinas guru di masing-masing sekolah di wilayah terpencil, agar para guru tidak kewelahan mencari tempat tinggal saat ditempat tugaskan nantinya.














