INPUTRAKYAT_LUWU,–Sribaginda Topapoatakkeng Datu Luwu Ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu Daeng Bau menghadiri acara Mattemmu Lahoja atau Maddojaroja yang merupakan prosesi Mappacekke’ Wanua, Kamis (07/02/19) malam.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Belopa sebagai Ibu Kota Kabupaten Luwu, Sulsel.
Dalam Amanatnya, YM Datu Luwu Andi Maradang Mackulau Opu Daeng Bau menyampaikan, jadilah Bangsawan.
Menurutnya, Bangsawan yang sesungguhnya bukanlah semata-mata karena gelar kemuliaan yang melengket didepan nama atau berderet panjang dibelakang nama, berdasarkan nazab belaka. Melainkan karena didasari prilakunya yang meninggikan nilai-nilai kemanusiaan sebagamana itu disebut sebagai “adat”.
Sesungguhnya adat itu adalah bukan sekedar aturan berprilaku belaka, melainkan suatu tatanan yang berpranata dalam jiwa hingga kemudian tercermin pada sikap. Adat adalah suatu tatanan budi berprikemanusiaan yang meliputi hak azasi dinamis dalam perimbangan hak dan kewajiban.
Maka bangsawan itu kata YM Opu Datu Luwu, “naisseng alEna, puratangnga gau’ rimaddimunrinna, nrupai janci rimaddiolona, najeppui alEna, najeppuitoi Puengna” (mengetahui dirinya, telah dipikirkan segala hal yang hendak diperbuatnya, menepati janji yang diikrarkannya sebelumnya, mengenali dirinya dan mengenal pula Tuhannya).
Menurutnya, seorang Bangsawan adalah pemuka nilai-nilai prikemanusiaan dalam kehidupannya sehari-hari. Ia tidaklah mesti seorang yang sempurna adiluhun, namun ia adalah seorang yang meninggikan pribudi dengan berpantang menikam dari belakang pada seseorang yang telah berupaya baik kepadanya. Terlebih pula memfitnahnya atas hal yang tidak sesungguhnya, demi suatu kepentingan pribadi. Ia takkan tega membalas air susu dengan air tuba.
Bangsawan adalah mereka yang berjiwa besar untuk senantiasa meluaskan silatturahim dan berserah diri kepada Allah SWT. Dalam perjalanan ikhtiarnya, terkadang ia dipersangkakan buruk namun tetap jua berjalan lurus tanpa mesti mengklarifikasi, demi membela kebenarannya. Ia adalah orang yang percaya pada Sunnatullah, bahwa kebenaran akan selalu muncul dipermukaan waktu pada akhirnya kelak. Maka ia percaya diri dalam menjalankan tugas kemanusiaannya, yakni menebarkan silaturrahim.
Ditambahkannya, bahwa seorang Bangsawan ialah seorang yang percaya diri berkat keikhlasannya dalam berbuat. Ia takkan mengagulkan diri dengan mengemukakan nazab keturunannya pada semua orang, karena ia memahami bahwa orang takkan mempertanyakan ia “siapa” untuk menentukan apakah ia pantas dihormati atau tidak. Melainkan ia dipandang dari hasil ikhtiarnya, apakah itu bermanfaat bagi banyak orang, maka dengan sendirinya ia mendapatkan penghargaan dari kehidupan ini sendiri.
Liputan: Redaksi | Editor: Amk.














