Opini: Kalangan Milenial Ikut Menentukan Hasil Pilkada Daerahnya

  • Whatsapp

Oleh: Eko Saputra, SH.
(Mahasiswa Pascasarjana Hukum Universitas Trisakti).

INPUTRAKYAT.CO.ID,–Kalangan milenial di era kemajuan teknologi saat ini selalu menjadi sasaran bagi kepentingan pasar bagi industri bisnis di hampir sejumlah jenis produk barang maupun jasa.

Bahkan anak-anak muda ini menjadi sasaran pundi-pundi suara bagi pasangan calon kepala daerah di ajang pesta demokrasi tahun 2020 ini.

Mengapa? Karena kalangan milenial yang umumnya memiliki usia rentang 18 hingga 35 tahun jumlahnya begitu banyak.

Sebagian besar mereka tergolong pemilih pemula yang sangat lekat dan peduli dengan gadget dibanding minat dalam dunia politik.

Di usia milenial ini, mereka sangat minim memiliki pengetahuan tentang politik dan istilah-istilah di dalamnya.

Mereka umumnya ‘tabu’ dengan kata seperti “demokrasi”, “golput”, atau “pilkada” itu sendiri, meskipun mereka pernah mendengar atau menyebutnya.

Milenial adalah potensi pendulang suara di pilkada, namun kerap hanya diberikan “kacamata kuda” oleh oknum atau pihak yang berkepentingan dalam arena pemilu. Apakah dijadikan sebagai massa penggembira di masa pilkada maupun penambah kantong suara kandidat.

Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 menjadi tantangan semua elemen bangsa khususnya yang berperan dalam suksesnya penyelenggaran pilkada serentak yang demokratis. Apalagi pelaksanaan pilkada tahun ini dilangsungkan di masa pandemi covid-19.

Nilai kesuksesan sebuah pesta demokrasi tak lepas dari terpilihnya pemimpin yang berkualitas, bukan melulu terpilih karena kuantitas pemilihnya di TPS yang mungkin mencoblos karena kekuatan materil dari paslon bersangkutan.

Olehnya, potensi kuantitas pemilih milenial sangat berperan dalam menentukan hasil pilkada daerahnya. Mereka perlu mengetahui siapa calon pemimpin di daerahnya yang betul-betul layak dipilih.

Mereka jangan dibiarkan ‘buta’ hingga cuek terhadap demokrasi dan politik. Mereka membutuhkan edukasi tentang hal itu yang didesain dengan efektif melalui saluran atau media komunikasi kekinian, tanpa mengusik kebiasaan atau gaya hidup generasi milenial tersebut.

Anak-anak muda juga adalah pengguna gadget digital terbanyak dalam bersosmed (sosial media). Melalui dunia mereka, melalui aplikasi media sosial yang sudah sangat akrab kehidupan mereka, golongan milenial ini bisa disentuh dengan pendidikan demokrasi dan politik, serta mengenal figur calon yang pantas memimpin daerahnya.

Generasi anak muda ini zaman tak boleh disepelekan demi mewujudkan kehidupan demokrasi bangsa dalam mendorong kemajuan dan perekonomian khususnya di daerah mereka.

Kalangan milenial harus memiliki wawasan demokrasi dan politik agar bisa mengenal siapa calon pemimpin daerah mereka yang betul-betul peduli dan dekat dengan mereka serta tahu visi-misi calon tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka di masa datang.

Agar mereka tahu dan memiliki keberanian untuk tidak memilih pemimpin yang hanya mengincar kekuasaan demi kepentingan diri sendiri dan golongan atau kelompoknya sendiri.

Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *