Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Pejuang Subuh SDN 238 Mallaulu, Cara Sekolah Bentuk Karakter dan Kedisiplinan Siswa Sejak Dini

37
×

Pejuang Subuh SDN 238 Mallaulu, Cara Sekolah Bentuk Karakter dan Kedisiplinan Siswa Sejak Dini

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,—Gerakan pembentukan karakter dan pembiasaan beribadah sejak dini melalui salat Subuh berjamaah yang digalakkan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur di bawah

kepemimpinan Bupati Irwan Bachri Syam terus mendapat dukungan dari satuan pendidikan.

Salah satunya dilaksanakan UPT SDN 238 Mallaulu, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili.

Melalui program Pejuang Subuh, pihak sekolah tidak hanya mengajak siswa melaksanakan salat Subuh berjamaah, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari pembinaan kedisiplinan, nilai keagamaan, serta pembentukan akhlak peserta didik.

Kepala UPT SDN 238 Mallaulu, Hardianto, bahkan turut terlibat langsung dalam pelaksanaan salat Subuh berjamaah bersama para siswanya.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (14/9/2026), Hardianto mengatakan program tersebut memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter siswa.

Menurutnya, sekolah membagi zona bagi para guru, khususnya guru yang berdomisili dekat dengan siswa, agar dapat melakukan pemantauan sekaligus ikut melaksanakan salat Subuh berjamaah bersama peserta didik.

“Melalui program Bapak Bupati ini, kami berbagi zona. Guru yang dekat dengan muridnya bisa memantau dan ikut bersama-sama melaksanakan salat berjamaah,” ujar Hardianto.

Selain itu, sekolah menerapkan kartu kontrol kehadiran sebagai bentuk pemantauan pelaksanaan salat Subuh. Bagi siswa yang melaksanakan salat berjamaah di masjid, kartu tersebut diberikan kepada imam masjid untuk ditandatangani.

Sementara bagi siswa yang jarak rumahnya cukup jauh dari masjid dan melaksanakan salat Subuh di rumah, kartu kontrol akan ditandatangani oleh orang tua. Pihak sekolah juga meminta dokumentasi sebagai bentuk pendampingan dan pengawasan orang tua.

Hardianto menambahkan, kegiatan Pejuang Subuh tidak berhenti setelah pelaksanaan salat. Para siswa juga mengikuti pengajian singkat di masjid serta mendapatkan pendampingan melalui tutor sebaya untuk menghafal doa-doa sehari-hari.

“Setelah salat Subuh, kami juga mengadakan pengajian kecil di masjid. Ada tutor sebaya yang mengajarkan anak-anak menghafal doa, seperti doa masuk masjid dan doa makan. Jadi, betul-betul kami bimbing,” jelasnya.

Menurut Hardianto, pembiasaan tersebut juga membantu membentuk kedisiplinan siswa. Setelah mengikuti salat Subuh dan kegiatan keagamaan, siswa memiliki waktu untuk kembali ke rumah, mandi, sarapan, dan mempersiapkan diri sebelum berangkat ke sekolah.

“Dengan begitu, tidak ada lagi siswa yang terlambat datang ke sekolah,” katanya.

Tidak hanya melalui Pejuang Subuh, pembentukan karakter dan kedisiplinan juga diterapkan di lingkungan sekolah.

Setiap pukul 07.00 WITA, gerbang sekolah ditutup dengan ketentuan tertentu. Siswa yang datang setelah waktu tersebut diarahkan mengikuti kegiatan peduli lingkungan selama 15 menit.

Kegiatan itu menjadi bagian dari pembiasaan siswa agar memiliki kepedulian terhadap kebersihan, lingkungan, serta rasa tanggung jawab.

Hardianto menilai, program Pejuang Subuh memberikan dampak yang luar biasa karena pembentukan karakter dilakukan melalui kebiasaan yang sederhana namun konsisten.

Atas program tersebut, pihak SDN 238 Mallaulu menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Menurut Hardianto, Pejuang Subuh bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi menjadi sarana membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan akhlak siswa sejak usia dini.(Solihin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *