INPUTRAKYAT_MAKASSAR,–Film Silariang: Cinta yang Tak di Restui hadir di perfilman tanah air untuk menggambarkan sebuah kisah percintaan yang selalu happening dari masa kemasa. Dan Silariang sendiri merupakan sebuah isu yang tak lekang oleh jaman di kalangan Bugis Makassar.
“Tema Silariang bukanlah hal baru di Industri kreatif tanah air. Di tahun 70an, sastrawan terkenal asal Makassar sekaligus peraih piala citra Rahman Arge (Almarhum) sudah mengangkatnya dalam sebuah cerita pendek. Lalu, di tahun 1990an, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan juga memproduksi film berjudul “Jangan Renggut Cintaku”. Dan film “Silariang: Cinta Yang Tak di Direstui“ menjadi menarik dan segar dari kisah-kisah tentang Silariang sebelumnya karena mengambil perspektif dari pelakunya,” tutur Ichwan Persada, Sabtu (13/01/18) di Mall Ratu Indah, Jln. Ratulangi saat Pressconfrence Film Silariang.
Film ini merupakan produksi perdana dari rumah produksi asal Makassar, Inipasti Communika bekerjasama dengan Indonesia Sinema persada, dengan melibatkan sineas-sineas muda Indonesia hasil kolaborasi Makassar dan Jakarta. Sebut saja Wisnu Adi sebagai sutradara, Kunun Nugroho sebagai co Sutradara, penulis skenario Oka Aurora, Luna Vidya sebagai pengarah peran dan banyak lagi
Sesuai dengan targetnya, yaitu anak muda, dan konsep film yang mengangkat budaya Bugis, Film Silariang: Cinta Yang Tak di Direstui pun tak lepas menggandeng sederet aktor muda Indonesia, seperti Bisma Karisma, Andania Suri, peraih 2 piala Citra, Dewi Irawan, serta aktor lokal berbakat Makassar seperti Nurlela M. Ipa, Muhary Wahyu Nurba, Sese Lawing, Cipta Perdana, Fhail Firmansyah dan didukung sejumlah pemain-pemain berbakat Makassar lainnya.
Proses produksi film “Silariang: Cinta Yang Tak di Direstui” sejak pertama kali riset, penulisan, hunting lokasi, proses latihan dialek Makassar serta syuting film hingga post production menghabiskan waktu yang cukup panjang. Meski tak menyebutkan lokasi spesifik di adegan film, sebagian besar gambar di rekam di lokasi wisata eksotis, Rammang Rammang, yang tengah dibidik menjadi primadona pariwisata. Rammang Rammang berjarak sekitar sejam perjalanan dari Makassar.
Ichwan Persada Produser Film Silariang Cinta Yang Tak di Direstui ini berharap film garapannya bisa memberi dukungan pada perkembangan Industri kreatif pada skala lokal dan juga diharapkan mampu mengajak sineas nasional lainnya yang tersebar di penjuru Sulawesi Selatan.
“Film ini memberi nilai penghormatan atas segala sesuatu. Saat kita berani berjuang untuk sesuatu yang kita yakini, itulah kemenangan yang sejati. Nilai penghormatan antara anak dan orang tua terkadang sudah mulai jauh dari kehidupan kita saat ini” pungkas Ichwan.
Film Silariang: Cinta Yang Tak di Direstui akan beredar di bioskop di seluruh Indonesia mulai 18 Januari 2018.
Liputan: Noya | Editor: Zhakral.














