Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

PT Vale Bersama Komunitas MP Parasulu Gelar FGD, Begini Tanggapan Monohok YKCLI

620
×

PT Vale Bersama Komunitas MP Parasulu Gelar FGD, Begini Tanggapan Monohok YKCLI

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–PT. Vale Indonesia bersama Komunitas Merah Putih (MP) Parasulu dan Pemda Luwu Timur menggelar Focus Group Discussion (FGD), kemarin.

FGD itu mengusung tema “Pesisir dan Laut Terjaga, Masyarakat Tangguh dan Berdaya, subtema Mengelola Potensi Sumberdaya Mangrove dan Terumbu Karang Malili Secara Mandiri dan Berkelanjutan”.

Menanggapi kegiatan tersebut, Ketua Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), Resa mengapresiasi Komunitas MP Parasulu menggelar FGD yang membahas tentang mangrove dan terumbu karang.

“Kami mengapresiasi apa yang dilakukan teman-teman Komunitas MP Parasulu dengan menghadirkan sejumlah narasumber baik dari PT. Vale, Bupati Lutim dan Sekertaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP serta narasumber lainnya yang berkompeten di bidang itu,” ucapnya, Kamis (19/08/2021).

Nah, kalau saya mendengar pada diskusi tersebut sempat disinggung mengenai kerusakan terumbu karang serta upaya yang akan dilakukan untuk perbaikan.

Maka dari itu, kami berharap terkait perbaikan ekosistem laut alangkah baiknya diawali dari hulu agar kedepan kita dapat mengetahui sebab dan akibat dari persoalan rusaknya terumbu karang dan dapat menentukan upaya pendekatan metode yg akan dilaksanakan secara tepat sasaran.

Menurutnya, langkah awal yang mesti dilakukan adalah mendesak DLH Lutim agar melakukan tinjauan kembali mengenai UKL UPL yang di pegang oleh perusahaan yang memanfaatkan wilayah perairan teluk Bone.

Lanjutnya, kerusakan ekosistem laut ini sudah berlangsung lama diduga diakibatkan ulah oknum manusia yang tidak bertanggungjawab melakukan penangkapan ikan dengan cara di bom dan penangkapan ikan dengan menggunakan potasium sianida.

Tetapi kerusakan itu cukup kecil jika dibandingkan aktivitas kapal perusahaan dalam hal ini PT. Vale Indonesia, seperti tumpahan matrial sulfur yang dapat meningkatkan keasaman laut dan pengunaan zat kimia yg tidak terkontrol pada petani tambak.

Akibat dari itu, terumbu karang kita diperairan sudah banyak tidak hidup lagi dan bentuknya menyerupai batu karna kekurangan ion karbonat sebagai pembentuk struktur terumbu karang. Ini fakta, kami sudah lakukan observasi selama tiga bulan terahir diperairan Luwu Timur.

Salah satu lokasi kerusakan ekosistem laut yang kami temukan yakni mulai dari Pelabuhan PT. Vale yang terletak di Desa Balantang sampai ke radius kurang lebih 8 KM terluar pulau Bulu Poloe, bebernya.

Tapi itu belum cukup ada pula yang lebih fatal, kalau PT. Vale mau lihat nanti saya tunjukkan dimana lokasinya, serta dokumentasi terjadinya kerusakan perairan Luwu Timur, tandas Resa.

Ditegaskannya bahwa masalah ini sangat serius karena mengigat banyak masyarakat menggantungkan hidup dari hasil perairan. Nah, jika tidak cepat ditangani kasihan nelayan yang harus mencari ikan dengan jarak yang sangat jauh.

Selain itu, dengan adanya kerusakan ini tentu sangat berpotensi merugikan negara dalam jumlah besar. Olehnya itu, kami mendesak Kementerian terkait yakni KLHK dan KKP agar ikut serta dalam proses penyelesaian persolan teluk Bone, tutupnya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *