INPUTRAKYAT_LUTIM,–Di Danau Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, terdapat burung Maleo (macrocephalon maleo).
Burung Maleo ini merupakan satwa endemik, dan hidup terbatas di Sulawesi, karena jumlahnya semakin berkurang.
Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegunungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu.
Namun satwa endemik ini kerap kali dijumpai di Danau Towuti ketika pagi hari. Meski demikian, burung Maleo ini wajib untuk dijaga dari kepunahan.
Populasi Burung Maleo tersebut semakin terancam apabila sering diburu oleh masyarakat baik satwanya maupun telurnya untuk konsumsi dan juga diperdagangkan.
Belum lagi musuh alami yang memangsa telur Maleo seperti babi hutan dan biawak. Habitatnya yang khas juga mempercepat kepunahan.
Mengantisipasi burung Maleo ini dari kepunahan, pemerhati satwa endemik, Rauf Dewang meminta Pemerintah Daerah agar peduli burung Maleo yang saat ini populasinya masih ada di Danau Towuti, Selasa (14/12/2021).
“Burung ini adalah satwa endemik, dan Danau Towuti salah satu wilayah di Sulawesi yang dihinggapi Maleo untuk berkembang biak. Olehnya itu, mari kita jaga ini,” imbuhnya.
Kalau perlu tambahnya, Pemda Lutim mengeluarkan Perda ketegasan agar masyarakat tidak berburu telur ataupun burung Maleo.
Untuk diketahui, dilansir dari halodoc.com, Burung Maleo yang mirip ayam ini sekilas mungkin terlihat aneh, karena mereka memiliki benjolan bulat di atas kepalanya yang disebut sebagai pelindung kepala. Burung maleo juga memiliki dua warna bulu, yaitu hitam pekat di bagian atas badannya dan merah muda yang lembut di bagian bawah.
Tidak hanya bentuk fisiknya saja yang unik, burung maleo juga masih memiliki banyak keunikan lainnya yang tidak kalah menarik untuk diketahui. Yuk, kenalan lebih dekat dengan burung maleo di sini.
Tentang Burung Maleo
Macrocephalon maleo, biasa dikenal dengan burung maleo atau maleo senkawor adalah fauna endemik pulau Sulawesi. Artinya, hewan tersebut hampir tidak pernah ditemukan di tempat lain di Indonesia. Meski begitu, tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan burung maleo. Burung eksotis ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi, seperti di Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Namun, maleo juga bisa ditemukan di Maluku.
Burung maleo berukuran sedang dengan panjang sekitar 55 sentimeter dan sebagian besar bulunya berwarna hitam. Burung ini juga memiliki ciri fisik yang khas lainnya, antara lain kulit wajahnya bercorak kekuningan, mempunyai paruh jingga dan bulu di bagian bawahnya berwarna merah muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat semacam jambul keras berwarna hitam. Ukuran burung betina lebih kecil daripada jantan dengan warna yang lebih gelap.
Meski termasuk dalam keluarga burung, maleo tidak suka terbang. Burung ini lebih sering menggunakan kakinya untuk berjalan. Itulah mengapa mereka lebih tampak seperti ayam daripada burung. Pakan burung maleo terdiri dari aneka biji-bijian, buah, semut, kumbang dan berbagai jenis hewan kecil lainnya.
Cara Burung Maleo Berkembang Biak
Biasanya, burung maleo akan pergi ke tempat bersarang dengan pasangannya pada pagi hari, lalu mereka akan menggali tanah, pasir, dan kerikil secara bergantian membentuk lubang besar.
Betina kemudian berhenti di dalam lubang untuk bertelur. Sementara sang jantan akan berlarian di sekitar lubang dengan mencoba menjulurkan leher mereka keluar untuk mewaspadai bahaya. Saat betina keluar, mereka kembali bergantian menutup lubang.
Tidak seperti burung pada umumnya, maleo tidak mengerami telur mereka dengan menggunakan panas tubuh mereka sendiri, melainkan mereka membiarkan alam yang bekerja. Maleo adalah megapoda, yaitu pembuat gundukan, jadi mereka menggali dan mengubur telurnya di dalam daerah-daerah yang hangat dari panas bumi, seperti di daerah sekitar pantai gunung berapi.
Maleo juga tidak melalui proses inkubasi dikarenakan ukuran telurnya yang cukup besar, bahkan lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Satu telur maleo ukurannya kira-kira sama dengan 5 telur ayam. Karena besarnya ukuran telur mereka, maleo juga bisa pingsan setelah bertelur.
Telur maleo harus menunggu kurang lebih 80 hari untuk bisa menetas dan anaknya bertemu dengan induknya. Proses tersebut cukup lama, belum lagi anak-anak burung maleo yang sudah menetas harus berjuang keluar dari pasir yang menumpuk.
Tidak heran bila anak-anak burung maleo lebih sering mati dan lama-kelamaan jumlahnya berkurang. Namun, setelah keluar dari telur dan tumpukan pasir sendirian, anak-anak burung maleo secara naluriah akan mencari tempat bersembunyi di hutan dan mencari makanannya sendiri.
Hewan yang Setia
Tidak banyak hewan yang setia pada pasangannya, namun burung maleo termasuk hewan yang setia. Sepanjang hidupnya, maleo hanya akan hidup bersama dengan satu pasangan alias monogami. Hal ini bisa dibuktikan dengan kegiatan keseharian maleo jantan yang sedikit, dan bahkan tidak pernah menjajah. Burung maleo lebih suka hidup berdampingan dengan pasangannya dan saling menjaga dan melindungi.
Terancam Punah
Sayangnya, Badan konservasi International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan burung maleo ke dalam kategori endangered atau hampir punah. Artinya, burung endemik di Sulawesi ini berisiko tinggi mengalami kepunahan dan bahkan dikhawatirkan bakal punah pada masa mendatang.
Keberadaan burung maleo terancam punah karena pembukaan lahan baru, penebangan liar, kebakaran hutan dan lahan menghilangkan habitat burung tersebut. Selain itu, perburuan liar terhadap maleo dan pencurian telurnya juga masih tinggi. Belum lagi adanya ancaman dari hewan predator, seperti ular dan biawak. Namun, berbagai cara sudah dilakukan untuk melestarikan burung maleo.
Liputan: Amk | Editor: Redaksi.
















