INPUT RAKYAT_ MAKASSAR – Keramaian di Atrium Trans Studio Mall (TSM) Makassar selama gelaran Pameran Kriya dan Wastra Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tak hanya dipenuhi pengunjung yang berburu produk kerajinan khas Nusantara. Di antara puluhan stan yang memamerkan karya terbaik dari berbagai daerah, satu sudut pameran tampak tak pernah sepi. Pengunjung silih berganti mendekat, menyentuh lembut kain-kain berwarna alami, mengamati motifnya, lalu bertanya tentang rahasia warna yang begitu khas.
Di stan itulah Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (Polipangkep) memperkenalkan Cocodye, inovasi pewarna alami berbahan limbah sabut kelapa yang lahir dari riset kampus vokasi. Bukan sekadar menghadirkan produk wastra, Cocodye membawa pesan tentang bagaimana limbah pertanian dapat diolah menjadi produk fesyen bernilai tinggi sekaligus ramah lingkungan.
Selama empat hari penyelenggaraan pameran pada 9–12 Juli 2026, produk-produk Cocodye berupa kain, syal, busana hingga aksesori menjadi salah satu daya tarik utama. Banyak pengunjung yang penasaran ketika mengetahui warna-warna pada kain tersebut berasal dari limbah sabut kelapa yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai ekonomi. Produk riset ini merupakan bagian dari Program Bestari Saintek dengan pendanaan LPDP 2026–2027.
Pameran HUT Dekranas ke-46 sendiri diikuti oleh Dekranasda provinsi, kabupaten, dan kota dari seluruh Indonesia, kementerian, lembaga, serta berbagai mitra strategis. Beragam kriya, wastra Nusantara, fesyen etnik, hingga kerajinan tangan dipamerkan sebagai bagian dari upaya memperluas promosi sekaligus membuka akses pasar bagi produk unggulan daerah.

Ketua Harian TP PKK Sulawesi Selatan, Melani Simon, mengatakan pemilihan pusat perbelanjaan modern sebagai lokasi pameran merupakan strategi untuk menghadirkan produk UMKM kepada lebih banyak masyarakat.
“Kami berharap penyelenggaraan di Trans Studio Mall mampu menjangkau lebih banyak masyarakat. Produk-produk unggulan seperti wastra inovatif dari Polipangkep membuktikan bahwa karya daerah memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Melani.
Antusiasme masyarakat ternyata juga menarik perhatian sejumlah tokoh nasional yang datang mengunjungi stan Cocodye. Mereka tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga berdiskusi mengenai proses pewarnaan alami yang menjadi keunggulan inovasi tersebut.
Ketua Tim Riset Cocodye Polipangkep, Zulfitriany D. Mustaka, mengatakan kehadiran berbagai tokoh di stan mereka menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus membuktikan bahwa inovasi berbasis riset kampus mendapat tempat di tingkat nasional.
“Kami mendapatkan apresiasi dari Alia Febyani Prabandari Jumhur Hidayat, istri Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Mohammad Jumhur Hidayat. Beliau berdiskusi langsung mengenai proses pewarnaan alami yang kami kembangkan. Selain itu, Ketua Dekranasda Sulawesi Selatan, Naoemi Octarina, juga berkunjung ke stan kami dan membeli satu lembar kain hasil pewarnaan alami Cocodye. Ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi ramah lingkungan,” kata Zulfitriany.
Menurut Zulfitriany yang juga Ketua Tim Riset Sekaligus sebagai Pengurus Dekranasda Provinsi Sulsel Bidang Wirausaha Baru, perhatian yang diberikan para tokoh nasional tersebut menjadi bukti bahwa hasil riset perguruan tinggi vokasi mampu melahirkan inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat menjawab kebutuhan industri kreatif yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan.
Ia menambahkan, pengembangan Cocodye juga menjadi contoh nyata penerapan ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai tambah tinggi tanpa meninggalkan prinsip pelestarian lingkungan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing industri wastra Indonesia sekaligus membuka peluang baru bagi masyarakat dan pelaku UMKM.
Keikutsertaan Polipangkep dalam HUT Dekranas 2026 pun menjadi lebih dari sekadar ajang pameran. Momentum ini menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari kampus vokasi mampu bersanding dengan produk-produk unggulan dari seluruh Indonesia.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap fesyen berkelanjutan, Cocodye hadir membawa harapan baru. Dari limbah sabut kelapa yang sebelumnya terabaikan, lahir warna-warna alami yang kini menghiasi lembaran kain Nusantara, menjadi bukti bahwa kreativitas, riset, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berpadu menghasilkan karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memberi manfaat bagi masa depan industri wastra Indonesia.














