Example 728x250
Example 728x250
Input Pendidikan

Perkuat Kurikulum Berbasis Cinta, Kemenag Luwu Timur Bidik Madrasah Bebas Bullying

44
×

Perkuat Kurikulum Berbasis Cinta, Kemenag Luwu Timur Bidik Madrasah Bebas Bullying

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM — Kementerian Agama Kabupaten Luwu Timur mendorong madrasah menjadi ruang pendidikan yang aman bagi peserta didik. Upaya itu ditempuh melalui Workshop Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar di Aula MAN 1 Luwu Timur, Selasa, 11 Agustus 2026.

Workshop berlangsung selama dua hari, hingga Rabu, 12 Agustus 2026, dan diikuti 171 peserta dari madrasah se-Kabupaten Luwu Timur. Peserta berasal dari jenjang RA, MI, MTs, dan MA.

Kepala Kantor Kemenag Luwu Timur, Rusdi Daming, membuka kegiatan tersebut. Ia mengatakan Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar konsep baru dalam pendidikan madrasah. Menurut dia, kurikulum tersebut merupakan penguatan terhadap nilai kasih sayang, kepedulian, penghormatan, dan empati yang selama ini menjadi bagian dari pendidikan di madrasah.

“Sekarang bagaimana nilai-nilai tersebut kita kuatkan dan hadirkan secara lebih nyata dalam proses pembelajaran,” kata Rusdi.

Menurut Rusdi, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan akademik siswa. Madrasah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan memastikan peserta didik merasa aman selama berada di lingkungan sekolah.

Ia menegaskan tidak boleh ada siswa yang datang ke madrasah dengan rasa takut, tertekan, atau merasa tidak dihargai.

“Madrasah adalah tempat yang aman untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi,” ujarnya.

Persoalan perundungan menjadi salah satu perhatian dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta. Nilai empati dan penghormatan kepada sesama diharapkan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari budaya keseharian di madrasah.

Pokjawas Nasional H. Syamsuddin Rasyid mengajak para peserta menerjemahkan nilai-nilai cinta ke dalam praktik pendidikan. Hal itu mencakup metode pembelajaran, budaya madrasah, pola komunikasi guru dengan siswa, hingga hubungan antarwarga madrasah.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Cara guru berkomunikasi, memperlakukan siswa, dan menyelesaikan persoalan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.

Pengawas Madrasah Ali Usman mengatakan salah satu target penting dari penguatan Kurikulum Berbasis Cinta ialah menciptakan lingkungan madrasah yang bebas dari perundungan.

Ia berharap tidak ada lagi siswa yang merendahkan, menyakiti, atau mengucilkan temannya.

“Madrasah harus menjadi tempat yang membuat anak merasa nyaman, dihargai, dan dicintai,” kata Ali.

Menurut dia, penerapan kurikulum tersebut harus berujung pada perubahan budaya di lingkungan madrasah. Nilai saling menghormati dan saling menguatkan tidak cukup disampaikan sebagai teori, tetapi harus terlihat dalam perilaku guru maupun peserta didik.

Workshop ini diharapkan menjadi titik awal gerakan bersama di seluruh madrasah di Luwu Timur. Kemenag mendorong hasil pelatihan diterapkan dalam pembelajaran, budaya sekolah, serta interaksi sehari-hari.

Hari kedua workshop akan diisi materi implementasi Model 736 dalam penyusunan jadwal intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Materi tersebut disampaikan H. Ridwan, Ketua Pokjawas Provinsi Sulawesi Selatan.

Materi itu diarahkan untuk memperkuat kemampuan teknis madrasah dalam menerjemahkan kurikulum ke dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar tersusunnya dokumen kurikulum. Tantangannya adalah memastikan setiap anak merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk tumbuh tanpa takut dirundung di tempat ia menuntut ilmu. (Rama).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *