Example 728x250
Example 728x250
Input LutimInput Pendidikan

SDN 221 Malili Terapkan Supervisi Akademik Berbasis Coaching, Dorong Guru Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

47
×

SDN 221 Malili Terapkan Supervisi Akademik Berbasis Coaching, Dorong Guru Tingkatkan Kualitas Pembelajaran

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,—SDN 221 Malili, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, melaksanakan supervisi akademik terhadap guru kelas VI.A dengan menggunakan pendekatan coaching berbasis model TIRTA, Senin (26/10/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi guru sekaligus mendorong terciptanya proses pembelajaran yang lebih berkualitas dan berpusat pada peserta didik.

Di bawah kepemimpinan Satriani, S.Pd., M.Pd., selaku Kepala SDN 221 Malili, supervisi akademik tidak hanya menjadi kegiatan pemantauan pembelajaran, tetapi juga sarana pembinaan dan pengembangan potensi guru secara berkelanjutan.

Supervisi dilaksanakan melalui tiga tahapan, yakni pra-supervisi, proses supervisi, dan pasca-supervisi. Setiap tahapan dirancang untuk membangun komunikasi yang terbuka, reflektif, serta mendorong guru mengenali kekuatan dan aspek pembelajaran yang masih perlu dikembangkan.

Supervisi akademik dengan pendekatan coaching berbasis model TIRTA merupakan proses pembinaan yang menempatkan kepala sekolah sebagai mitra bagi guru.

Pendekatan ini bukan bertujuan untuk mencari kesalahan atau semata-mata menilai kinerja guru, melainkan membantu mereka mengoptimalkan potensi dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Melalui komunikasi dua arah yang dilandasi empati, kepala sekolah berperan sebagai coach atau mitra dialog yang mendorong guru berpikir kritis dan reflektif.

Alih-alih memberikan instruksi atau solusi secara langsung, kepala sekolah mengajukan pertanyaan-pertanyaan berbobot agar guru mampu menemukan solusi atas tantangan yang dihadapi di kelas.

Model TIRTA sendiri mencakup empat tahapan, yaitu Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab. Melalui tahapan tersebut, guru dibimbing untuk menetapkan tujuan pengembangan, mengidentifikasi kondisi dan tantangan pembelajaran, menyusun langkah perbaikan, serta berkomitmen melaksanakan rencana aksi yang telah disepakati.

Pendekatan ini berorientasi pada pengembangan ke depan (future-oriented), membangun kesadaran diri (self-awareness), serta menumbuhkan tanggung jawab dan kemandirian guru dalam meningkatkan kompetensinya.

Dengan demikian, supervisi akademik tidak berhenti pada proses observasi dan evaluasi, tetapi berlanjut pada refleksi serta perencanaan perbaikan pembelajaran yang nyata.

Melalui penerapan coaching berbasis model TIRTA, SDN 221 Malili diharapkan mampu membangun budaya belajar yang positif di kalangan guru, memperkuat profesionalisme tenaga pendidik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, peningkatan kompetensi guru diharapkan memberikan dampak langsung terhadap perkembangan potensi, kualitas belajar, dan prestasi peserta didik. (Solihin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *