INPUTRAKYAT_MAKASSAR, — Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad resmi mendeklarasikan diri untuk maju dalam pencalonan Presiden Republik Indonesia untuk periode 2019 – 2023 di Anjungan Pantai Losari, Senin (7/5/2018).
Di depan ribuan pendukung, pada orasi politiknya Abraham Samad mengatakan saat ini Indonesia belum menjadi negara yang bermartabat dan di pandang sebelah mata akibat korupsi yang merajalela di negeri ini.
“Sudah lebih dari 72 tahun kita merdeka, sudah 20 tahun reformasi bergulir namun, tetap saja Indonesia belum menjadi negara bermartabat di mata dunia, mengapa? Hanya satu jawabannya Korupsi!,” Tegas Abraham Samad
Abraham Samad juga mengungkapkan, berbagai persoalan yang saat ini masih melanda Indonesia, seperti Politik Rente, Janji Kampanye, Konspirasi Politik, kekayaan alam yang dikuras oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan cara culas, serta politik Dinasti.
“Di sektor politik, berbagai cara dilakukan demi memuaskan nafsu dan hasrat kekuasaan. Betapa mudahnya orang berjanji dengan menjual kata “Kesejahteraan”, lalu abai begitu saja saat sudah berkuasa.
“Sudah banyak pejabat negara yang menjadi tersangka korupsi. Mulai dari kepala daerah, hamba penegak hukum, anggota DPR dan DPRD, bahkan sampai ke level menteri.
“Politik dinasti pun kian mencorong dan semakin sohor. Lupakan sistem pengkaderan dalam partai politik. Hiraukan rekrutmen politik yang sehat.
“Sebab, di daerah yang kuat dengan dinasti politiknya, rekrutmen niscaya akan bersifat nepotisme, dan bertumpu pada silsilah keluarga. Tak ubahnya laksana rezim monarki absolut,“ ungkap Abraham Samad.
Mantan Ketua KPK ini juga mengatakan, menurutnya, Kekuasaan kini harganya teramat mahal bagi mereka yang punya integritas dan dedikasi. Mereka tersingkir dan terbuang dari arena politik.
Pada Sektor Ekonomi, Abraham samad menuturkan, Sumber daya alam yang melimpah tak menjadi jaminan kesejahteraan rakyat.
“Di Laut, kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan garis pantai terpanjang kedua setelah Kanada. Malangnya selama bertahun-tahun laut kita dijajah asing. Nelayan kita hanya jadi penonton di rumah sendiri. Sebagian menjadi buruh di kapal asing. Sebagian lagi meilih menjadi nelayan di negara lain, yang luas pantainya jauh di bawah Indonesia.
“Hutan kita begitu rimbun. Tapi, kini sudah tidak lagi menjadi rumah yang nyaman bagi masyarakat hukum adat dan orang rimba. Rumah mereka di tebang, tanahnya dirampok paksa perusahaan perkebunan dan pertambangan. Izin di berikan dengan cara mengangkangi regulasi. Akibatnya hutan menjadi gundul dan berganti dengan barisan pohon sawit yang menguras air tanah.
“Minyak Sawit di jual dengan harga selangit. Ironisnya, para buruh tani sawit tak sanggup membeli” tuturnya.
Putra Sulsel ini menjelaskan bahwa masih ada harapan untuk keluar dari keterpurukan berkepanjangan yakni Berantas Korupsi.
“Berantas Korupsi apapun caranya, apapun resikonya korupsi harus kita lawan. Politik harus dikembalikan ke fitrahnya sebagai sarana membawa bangsa menuju kesejahteraan,” tandasnya.
Liputan:Noya | Editor:Amk














