INPUTRAKYAT_LUTIM,–Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur mencatat pertumbuhan ekonomi non-tambang daerah ini mencapai 13,87 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) pada Triwulan I Tahun 2026. Angka tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi non-tambang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Kepala BPS Luwu Timur, Abdullah Pannu, mengatakan capaian tersebut menunjukkan kuatnya sektor-sektor non-tambang di tengah perlambatan ekonomi yang dipengaruhi menurunnya produksi pertambangan bijih logam, ungkapnya (Jumat (12/6/2026).
“Jika kontribusi sektor pertambangan dikeluarkan, ekonomi Luwu Timur sebenarnya mampu tumbuh sebesar 13,87 persen. Ini merupakan pertumbuhan ekonomi non-tambang tertinggi dalam lima tahun terakhir,” kata Abdullah.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh lima sektor utama, yakni Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang berkontribusi sebesar 24,35 persen. Disusul sektor Konstruksi sebesar 14,85 persen, Administrasi Pemerintahan 3,98 persen, Perdagangan 3,95 persen, dan Industri Pengolahan 3,91 persen.
Secara triwulanan atau quarter to quarter (q-to-q), sektor Administrasi Pemerintahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 44,17 persen. Kemudian sektor Konstruksi tumbuh 30,29 persen, Transportasi 21,49 persen, Real Estate 15,60 persen, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,68 persen.
Abdullah menjelaskan, pertumbuhan sektor non-tambang didorong oleh pembangunan fasilitas perusahaan, kawasan industri, dan perumahan yang terus berlangsung di Luwu Timur.
Selain itu, peningkatan belanja pemerintah dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) turut mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
“Meningkatnya mobilitas penduduk serta aktivitas perdagangan, jasa, transportasi, akomodasi, hingga penyediaan makan minum ikut memperkuat pertumbuhan ekonomi non-tambang,” ujarnya.
Dari sisi kontribusi pertumbuhan triwulanan, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,78 persen. Sektor Administrasi Pemerintahan memberikan andil 1,29 persen, sedangkan sektor Real Estate menyumbang 0,11 persen.
Abdullah menilai capaian tersebut menunjukkan sektor pertanian masih menjadi fondasi utama perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Pada kesempatan itu, Abdullah juga menekankan pentingnya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang saat ini sedang berlangsung. Menurutnya, sensus tersebut akan menghasilkan data yang akurat untuk mendukung perencanaan dan pembangunan daerah.
“Data yang berkualitas akan membantu Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dalam menyusun kebijakan yang tepat sasaran, mempercepat program prioritas, dan mencapai target pembangunan daerah,” katanya.
Ia mengajak seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 agar data yang dihasilkan benar-benar menggambarkan kondisi ekonomi Luwu Timur secara akurat.
“Dukungan semua pihak sangat dibutuhkan agar data yang diperoleh valid dan dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan pembangunan ke depan,” tutup Abdullah. (Solihin).














