Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Inflasi Luwu Timur 2,95 Persen, Masuk Tiga Terendah di Sulawesi Selatan

49
×

Inflasi Luwu Timur 2,95 Persen, Masuk Tiga Terendah di Sulawesi Selatan

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM — Inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) Kabupaten Luwu Timur pada September 2026 tercatat 2,95 persen. Angka tersebut menempatkan Luwu Timur dalam kelompok daerah dengan tingkat inflasi terendah di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur, inflasi y-on-y September 2026 di Luwu Timur berada di bawah sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Kota Palopo mencatat inflasi 2,27 persen, sedangkan Kabupaten Bulukumba sebesar 2,76 persen.

Secara bulanan, inflasi Luwu Timur pada September 2026 mencapai 0,62 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga dibandingkan Agustus 2026, meski tekanan harga tahunan masih berada pada level yang relatif terkendali.

Sejumlah komoditas pangan menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Cabai rawit memberikan andil terbesar, yakni 0,22 persen. Berikutnya daging ayam ras sebesar 0,18 persen dan udang basah sebesar 0,07 persen.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Ikan layang atau benggol memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen, disusul ikan teri dan semangka, masing-masing sebesar 0,03 persen.

Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, tekanan inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 5,74 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,42 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mencatat inflasi cukup tinggi, yakni 1,04 persen. Sementara kelompok transportasi berada pada angka 0,43 persen.

Adapun kelompok dengan inflasi tahunan terendah adalah kesehatan, sebesar 0,55 persen, dengan andil hanya 0,01 persen.

Data BPS menunjukkan inflasi Luwu Timur sempat berada pada level tinggi pada awal 2026. Inflasi y-on-y tercatat 4,30 persen pada Januari, meningkat menjadi 5,86 persen pada Februari, kemudian turun menjadi 4,80 persen pada Maret.

Tren penurunan berlanjut pada April menjadi 2,98 persen. Setelah sempat naik ke 4,32 persen pada Juni, inflasi kembali turun hingga 2,34 persen pada Agustus, sebelum bergerak naik menjadi 2,95 persen pada September.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama menghadapi potensi gangguan produksi dan pasokan pangan akibat perubahan kondisi iklim.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur didorong mempertahankan pengendalian inflasi melalui penguatan ketahanan pangan, memastikan kelancaran distribusi, menjaga keterjangkauan harga, serta memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama seluruh pemangku kepentingan.

Bagi pemerintah daerah, angka inflasi bukan sekadar statistik. Pergerakan harga pangan secara langsung berkaitan dengan daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas pasokan dan harga komoditas strategis menjadi salah satu kunci untuk menjaga kondisi ekonomi masyarakat Luwu Timur tetap terkendali.

BPS Kabupaten Luwu Timur merilis data tersebut melalui Berita Resmi Statistik Nomor 11/10/7325/Th. XI pada 1 Oktober 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *