Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Kabut Asap Kepung Luwu Timur dan Morowali Utara, Jarak Pandang Terbatas

223
×

Kabut Asap Kepung Luwu Timur dan Morowali Utara, Jarak Pandang Terbatas

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM — Kabut asap tebal menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, hingga Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, Rabu, 14 Oktober 2026. Jarak pandang di sejumlah titik, mulai dari Malili hingga Sorowako, dilaporkan terbatas. Sumber asap tersebut belum dipastikan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Timur, dr. April, mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.

“Saat ini kondisi udara kurang bersahabat akibat kabut asap yang dapat membahayakan kesehatan kita semua. Lindungi diri dengan menggunakan masker,” kata April, Rabu, 14 Oktober 2026.

Menurut April, BPBD belum menetapkan status terkait fenomena kabut asap tersebut. Pihaknya masih memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi untuk memperoleh konfirmasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BPBD Sulawesi Selatan.

Ia juga menyebutkan indeks El Niño tahun ini mencapai 2,73. Namun, penyebab kabut asap yang menyelimuti wilayah Luwu Timur belum dapat dipastikan dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Luwu Timur, dr. Helmy Kahar, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gangguan pernapasan akibat paparan partikel halus PM2.5 serta risiko penularan influenza.

Menurut Helmy, peningkatan konsentrasi PM2.5 di udara akibat kabut asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan. Ia meminta masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mengurangi risiko tersebut.

Dinas Kesehatan mengimbau warga menggunakan masker saat berada di luar ruangan, menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh. Masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dan memeriksakan diri apabila mengalami keluhan kesehatan.

“Kami sudah mengimbau seluruh puskesmas agar segera melakukan penanganan terhadap pasien jika terjadi gejala ISPA,” ujar Helmy.

Morowali Utara turut diselimuti asap

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Kabut asap tebal menyelimuti sejumlah kawasan hingga menghalangi pandangan ke arah pegunungan. Jarak pandang di wilayah terdampak pun terbatas.

Kepala Dinas Kesehatan Morowali Utara, Arif Paskal Pogonda, mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara. Ia meminta warga tidak menganggap remeh paparan asap, terutama jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama.

“Asap akibat karhutla bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak menganggap sepele kondisi udara yang mulai berasap,” kata Arif.

Menurut dia, paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memicu iritasi mata, batuk, dan sesak napas. Asap juga berpotensi memperburuk kondisi kesehatan anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau penyakit kronis lainnya.

Dinas Kesehatan Morowali Utara meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menghindari kegiatan fisik berat ketika kualitas udara memburuk. Warga juga dianjurkan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau iritasi mata berat.

Aris mengingatkan bahwa masker merupakan salah satu bentuk perlindungan, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan risiko paparan asap. Karena itu, masyarakat perlu menghindari paparan langsung selama kondisi udara belum membaik.

Selain langkah perlindungan kesehatan, ia mengajak masyarakat berperan aktif mencegah kebakaran hutan dan lahan dengan tidak melakukan pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran serta pencemaran udara.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam mencegah karhutla, serta tidak melakukan pembakaran lahan yang bisa memicu kebakaran dan pencemaran udara,” kata Arif, mantan Kepala Puskesmas Tomata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *