Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Input Sulteng

Konflik Lahan dengan PT SMN, Dua Warga Ditahan Polisi, Pihak Keluarga Lapor ke Komnas HAM, Begini Penjelasan Polres Morut

494
×

Konflik Lahan dengan PT SMN, Dua Warga Ditahan Polisi, Pihak Keluarga Lapor ke Komnas HAM, Begini Penjelasan Polres Morut

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

INPUTRAKYAT_MORUT,–Konflik agraria diduga berujung kriminalisasi warga, seperti yang dialami oleh Subardin (55) dan Agus (36) warga Desa Bungintimbe Kabupaten Morowali Utara (Morut) Sulawesi Tengah (Sulteng).

Saat ini ke-dua warga tersebut telah ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Morut atas tuduhan pengancaman yang terjadi di areal tambang PT Sinar Mestika Nusantara (SMN).

Example 300x600

Atas penahanan itu, keluarga para tersangka yakni istri dan anak-anaknya mendatangi serta mengadu ke Komnas HAM Perwakilan Sulteng, pada kamis (30/5/24), dengan didampingi Koordinator Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS) Eva Bande.

Sebelumnya, Subardin beserta kelompoknya pada tahun 2019 telah membuka lahan secara bertahap seluas 32 hektar, dengan menanam singkong,pisang serta kelapa dalam, dan dilokasi tersebut juga mereka membangun pondok kecil untuk tempat istrahat.

Tahun 2022 PT Sinar Mestika Nusantara menggusur lahan yang sudah dikelola oleh Subardin dan kelompoknya. Dengan alasan pihak perusahaan telah mengganti rugi kepada masyarakat desa tanaoge.

Karena mempertahankan hak atas tanahnya, Subardin beserta kelompoknya protes dengan melakukan pemalangan dilokasi PT Sinar Mestika Nusantara. Saat itu terjadi pertengkaran antara kelompok Subardin dan karyawan perusahaan.

Selanjutnya, 21 Mei 2024 Subardin dan satu anggota kelompoknya Agus ditetapkan sebagai tersangka, padahal mereka hanya mempertahankan tanahnya yang selama ini digarap dan dikelola bersama.

Sementara itu, Koordinator FRAS Sulteng Eva Bande mengecam tindakan penahanan ke dua warga tersebut. Menurutnya, ini adalah bentuk kriminalisasi dan pembungkaman kepada para petani yang memperjuangkan hak atas tanahnya.

Aktivis agraria itu juga, mendesak kepada Komnas HAM Sulteng untuk mengambil langkah tegas, penghentian proses hukum dengan mengedepankan dialog, persuasif dalam kasus agraria yang menimpa Subardin dan Agus.

Dikonfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Morowali Utara, AKP Arsyad Ma’aling membantah jika penahanan terhadap kedua orang tersebut menyangkut soal lahan dan sengketa tanahnya.

“Perkara itu bukan soal lahan dan sengketa tanahnya, mereka ditahan karena melakukan pengancaman dengan senjata tajam, nanti kami rilis di Polres,” singkatnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *