Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Pasar Tradisional Malili Turun Status dari Inflasi ke Deflasi, Urutan ke 5 di Sulsel

1226
×

Pasar Tradisional Malili Turun Status dari Inflasi ke Deflasi, Urutan ke 5 di Sulsel

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Pasar tradisional Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulsel, tercatat terjadi penurunan status dari inflasi ke deflasi. Penurunan ini menunjukkan bahwa harga barang-barang di pasar telah menjadi lebih stabil.

Penurunan status tersebut dibenarkan Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lutim, Darfan Husain saat dikonfirmasi redaksi InputRakyat.co.id, Selasa (18/3/2025).

“Iye saat ini Pasar tradisional Malili sudah mengalami penurunan status dari inflasi ke deflasi sejak Desember 2024 sampai saat ini, dengan nilai -0,86, sehingga Luwu Timur berada di posisi ke lima di Sulsel,” ungkapnya.

Lanjutnya, dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Pasar tradisional Malili mengalami inflasi pada Januari tahun kemarin, meningkat di bulan Maret sampai November dari nilai 2,60 menjadi 3,17, sehingga Lutim berada di posisi ke 3 di Sulsel.

Menurutnya, Pasar tradisonal Malili dijadikan sampel oleh BPS karena pasar kabupaten, dan terjadinya inflasi itu disebabkan beberapa faktor seperti wilayah tambang, daerah lintasan dan tingginya permintaan sementara stok tidak tersedia.

Adapun bahan pokok saat itu mengalami kenaikan harga kata Darfan, diantaranya beras jenis medium mencapai Rp 16 ribu per Kg dan cabe. Hal itu dipengaruhi oleh kondisi dampak elnino.

Kemudian terjadinya penurunan status saat ini disebabkan beberapa faktor diantaranya adanya subsidi listrik, ketersediaan stok dan geliatnya Pemda Lutim akhir-akhir ini menggelar gerakan pangan murah/operasi pasar di 11 kecamatan se Lutim.

“Meski kita berada diposisi deflasi, namun ada beberapa bahan pokok masih diatas harga yang telah ditetapkan pemerintah seperti cabe yang saat ini harganya mencapai Rp 70 ribu per Kg, sementara harga pemerintah hanya Rp 30 ribu per Kg,” jelasnya.

“Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh curah hujan yang masih tinggi akhir-akhir ini, dan bukan hanya itu harga beras pun ikut terbilang diatas harga normalnya seperti beras jenis medium masih dijumpai seharga Rp 13 ribu per Kg, sementara harga normalnya Rp 12.500 per Kg,” sambungnya lagi.

Masih dikatakan Darfan, untuk menekan harga saat ini kami bersama Disdagkop UKM Lutim masih terus melakukan survei disetiap Pasar di Lutim dan menggandeng Bulog untuk ketersediaan stok pangan.

Dengan kondisi itu tambahnya, selain terus menggelar Pasar murah, kami juga menggenjot masyarakat untuk budidaya cabe agar ketersediaan bahan pokok seperti itu yang kerap terjadi peningkatan harga dapat tersedia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *