INPUTRAKYAT_MAKASSAR,–Pengamat Politik Arqam Azikin menyampaikan kecemasanya melihat situasi politik Pilwalkot kota Makassar yang bertensi tinggi saat ini.
Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri dialog publik bertajuk ‘Era Millenial dan Masa Depan Ummmat (sisi keutamaan,kepemudaan, politik kebangsaan) di Warkop Jaya Abadi, Jln. A.P Pettarani Makassar, Minggu (04/02/18).
Menurutnya, kalau cuma dua calon walikota yang lolos jangan salahkan kalau ini persoalan menjadi menegangkan, seandainya Deng Ical masuk dengan Ustadz Ije kemarin, tensi ini akan turun dengan sendirinya karena akan ada paralel relawan tidak akan memusat ke kedua kutub, ujar Arqam Azikin didepan puluhan Mahasiswa yang hadir di acara dialog tersebut.
Lanjutnya, saat ini ia melihat Kota Makassar dalam kondisi politik cukup tegang dengan tensi tinggi, namun ia berharap ketegangan ini bisa reda dan Pilwalkot berjalan lancar tanpa gesekan.
“Sekarang ini tensinya lagi naik, saya bukan berdoa dan mengajari anda serta menakut-nakuti tapi dalam feeling saya melihat beberapa macam interaksi yang terjadi di 14 Kecamatan, waduh ngeri ini nanti perdebatannya mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, sekali lagi saya tidak mendoakan,” kata Arqam.
Semua dari hari kehari kita lihat dan dari semua berita-berita yang saya baca, waduh, ini sudah kayak mau perang besok. Padahal, penetapan calon belum selesai, tanggal 12 februari baru penetapan calon, terang Arqam Azikin yang juga dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar.
Saya meminta para mahasiswa yang hadir pada acara dialog tersebut tidak menjadi pemicu konflik dan menjadi perekat elemen dari dua kubu yang berseteru, pintanya.
“Tapi tolong adek adek yang dekat dari Makassar, dan yang masuk dalam kota Makassar tolong jangan ada menjadi pemicu konflik tapi anda bisa menjadi perekat elemen-elemen dari dua kutub ini, kalau mau berhadap – hadapan Secara massa,” imbuhnya.
Yang dapat membantu meredakan bila ada konflik yang terjadi kata Aqram yakni, Ulama dan Santri, menurutnya alat keamanan akan sulit memprediksi zona merah.
Istilah zona merah itu saya tidak percaya, dulu kasus pilkada di Soppeng di anggap zona ternyata pembakaran kantor KPU, sementara kasus 10 tahun lalu Palopo dianggap tenang tidak ada masalah namun terjadi pembakaran, begitu pula Kabupaten lain yang dianggap menyeramkan ternyata tidak apa-apa, beber Arqam.
Ia menambahkan, saya sangat berharap para calon kandidat Walikota dan wakil Walikota beserta relawannya dapat menahan diri untuk menjaga kestabilan dan keamanan.
Kata Aqram, hal itu nanti dilihat dalam peristiwa politik yang sebenarnya. Apa itu, tunggu tanggal 12 Februari, ini penetapan calon secara resmi, karena saat ini masih bakal calon namanya antara pak Dhany dan pak Appi, tetapi diatas kertas tinggal 2 paket ini yang akan bertarung.
“Saya berharap pak Danny dan pak Appi dan kemudian kedua perempuan kita, yang menjadi bakal calon wakil Walikota ini tidak memprovokasi suasana dan relawan relawan,” tutupnya.
Liputan: Noya | Editor: Zhakral.














