INPUTRAKYAT_LUTIM,–Empat orang tenaga medis Puskesmas Angkona, Kabupaten Luwu Timur dimutasi ke Puskesmas Bonepute, Kecamatan Burau.
Menurut pengakuan salah satu tenaga medis yang dimutasi inisial AI mengatakan, kalau dirinya dimutasi atas permintaan sendiri, ungkapnya, Jumat (02/07/2021).
Selain dirinya, istri dan adiknya pun ikut dimutasi serta satu orang rekannya lagi di Puskesmas Angkona berinisial Su.
“Saya yang minta mutasi pak karena tidak sejalan lagi dengan tindakan Kepala Puskesmas (Kapus) Angkona, Jumardi,” ujarnya.
Ketidak cocokan ini bermula saat kami menolak voting keinginan Kapus untuk memotong insentif covid-19.
Tak terima hal itu, keesokan harinya pun ia langsung berang saat memimpin apel lalu mengeluarkan kata-kata yang tak senonoh dengan mengatakan setan, munafik dan kikir.
Tidak sampai disitu, ia juga mengucapkan kalau kami mengemis-ngemis ke dia (Kapus) untuk tinggal di rumah dinas, sambungnya lagi.
Perlu diketahui lanjutnya, bukan hanya insentif ASN yang dipotong, insentif tenaga suka rela dan upah jasa pun ikut pula disunat.
“Adapun besaran insentif yang dipotong yakni Rp 100 ribu perorang. Alasannya, uang itu diperuntukkan untuk pembelian baju,” bebernya.
Sementara di tahun kemarin insentif Covid-19 kami sudah dipotong dengan nilai yang sama, tetapi sangat disayangkan kualitas kain yang dibelikan tidak sesuai dengan harapan.
“Inilah alasan kenapa kami menolak insentif dipotong dan masa setiap tahun kami harus beli baju,” tandasnya.
Senada dari itu, Su mengaku tidak tahu menahu kenapa dirinya dimutasi sementara ia tidak pernah mengajukan pengusulan.
“Saya kira ini imbas dari persoalan kemarin, akibat menolak keinginan Kapus untuk memotong insentif kami,” jelasnya.
Masa setiap tahun insentif kami harus dipotong untuk membeli baju, dan bahkan insentif tenaga sukarela dan upah jasa ikut pula dipotong, kasian mereka pak, tandasnya.
Dibeberkannya, tahun ini sudah ada enam orang yang dimutasi. Mei satu orang, Juni satu orang dan kemarin kami empat orang.
“Tapi kalau ini kemauan Kapus, ya kami terima saja dari pada kami harus bekerja dengan perlakuan seperti ini,” ucapnya.
Ia juga membenarkan pernyataan AI kalau Kapus berang saat memimpin apel lalu melontarkan kalimat yang tak pantas ke kami hanya gara-gara menolak inisiatif dia.
“Perkataan itu kami nda terima, masa kami dikatain didepan umum iblis, setan dan munafik serta menyinggung soal rumah dinas dan kendaraan dinas yang kami gunakan,” tutupnya.
Sementara itu, Kapus Angkona, Jumardi saat dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut mengatakan, kalau kles di PKM sering sering terjadi, bukan hanya karena ada rencana pengadaan baju untuk kepentingan bersama di PKM atau jaringannya dengan anggaran tersebut.
Seketika banyak yang menolak saya juga tidak memaksakan hak progratif saya sebagai pimpinan dalam hal ini, katanya.
Perlu kami sampaikan bahwa ada atau tidak adanya anggaran ini, kegiatan pelayanan tetap terlaksana. Namun karena anggaran ini cair kemudian ada bahasa sebagian teman berkeinginan untuk pengadaan baju, ternyata ada juga yang diam-diam tidak mau.
“Saya berpikir bahwa dana tersebut akan kembali juga ke mereka dalam bentuk baju. Dan dengan adanya penolakan beberapa teman, jadi anggaran tetap kami full kan ke mereka,” terangnya.
Lanjutnya, kalau soal kles dari dulu mungkin teman ada yang pindah ataukah saya sendiri yang pindah, karena namanya kles sejak saya diamanahkan tugas ini, banyak kejadian yg bisa saja saya sendiri melakukan mutasi dalam wilayah.
Dimutasinya mereka karena kepentingan dinas serta perintah tersebut di tandatangani oleh kabupaten, sehingga teman di tugaskan sementara di PKM Bonepute.
“Hanya momentumnya yang menyebabkan gambaran seolah saya yang memindahkan teman. Padahal diantara teman yang dipindahkan tersebut ada yang mengaku bahwa mereka sendiri yang minta pindah,” dalihnya.
Seandainya nama saya sendiri dalam surat perintah oleh kabupaten untuk dipindah tugaskan, dengan legowo saya terima dengan ikhlas sebagai bentuk loyalitas saya sebagai pegawai akan perintah kedinasan.
Tetapi mengenai mutasi itu sebelumnya saya tidak tahu nanti TU yang sampaikan bawa mereka ditugaskan ke Puskesmas Bonepute, tutupnya.
Terpisah, Kadis Kesehatan Lutim, dr Rosmini Pandin menjelaskan, bahwa kita mau mengisi Puskesmas Bonepute sesuai standar ketenagaan.
Olehnya itu, sesuai hasil diskusi Kabid SDK, kita pinjamkan dulu tenaga dari beberapa PKM sembari menunggu ketetapan dari BKPSDM. Sementara surat tugas untuk keempat orang itu hanya berlaku sebulan, singkatnya.
Liputan: Amk | Editor: Redaksi.














