INPUTRAKYAT_LUTIM,–Sekertaris DPD II Partai Golkar Luwu Timur, Andi Zulkarnain angkat bicara mengenai sindiran pedas Wahyuddin Al Kadry ke Ketua DPD I Golkar Sulsel, Tofan Pawe (TP).
Menurut Andi Zulkarnain, bahwa komentar itu tidak perlu ditanggapi serius, sepertinya dia tidak mendengar langsung komentar ketua TP, dia hanya baca dari media saja, itupun hanya baca judul tidak baca isi berita lalu berkomentar, ungkapnya, Senin (26/04/2021).
Lanjutnya, dukungan Partai Golkar ke pasangan MTH-Budiman adalah kontribusi besar. Jangan diliat orang per orang. seandainya ada oknum Golkar yang tidak maksimal bekerja dalam Pilkada, ada mekanisme internal partai yang menilainya, dan tentunya masyarakat bisa pun menilainya.
Ditanya pandangan Golkar Lutim mengenai sikap Budiman berlabuh di PDIP kata Andi Zul, pasti Golkar disemua tingkatan mempertanyakan hal itu, bahkan tidak sedikit yang menyesalkan hal itu, karena pak Budiman adalah pengganti pak Husler.
Mestinya estafet kepemimpinan pak Husler di Golkar juga dilanjutkan oleh Pak Budiman. Tapi pak Budiman sudah menentukan sikap bergabung di PDIP. Itu keputusan beliau dan Insya Allah Golkar di Luwu Timur tetap akan kokoh, karena beringin akar kuatnya ada di masyarakat, tegasnya lagi.
Disinggung ketika Budiman tidak menempatkan wakil bupati dari kader Golkar. Andi Zul kembali menegaskan, bahwa persoalan wakil masih panjang prosesnya.
“Tidak perlu terburu-buru, yang lebih penting adalah semua elemen masyarakat termasuk partai politik lebih fokus memikirkan bagaimana pembangunan di Luwu Timur bisa maksimal agar dapat dinikmati masyarakat,” terangnya.
Syarat utamanya yakni stabilitas sosial politik. Jangan sampai terburu-buru pikirkan pengisian jabatan wakil bupati yang lowong, dan ujung-ujungnya mengakibatkan perpecahan dan konflik politik, kan merugikan semua toh?, ucap Zul.
Diberitakan sebelumnya, Tom sapaan akrab Wahyuddin Al Kadry menegaskan, bahwa komentar TP mengenai pak Budiman tidak ada apa-apanya dan menilai mencederai politik adalah tanggapan lebay dan sombong.
Dijelaskan Tom, perlu dipahami bahwa sikap Budiman ke PDIP adalah kesepakatan bersama antara Almarhum Muh. Thorig Husler dengan Budiman dan pengurus PDIP Sulsel.
Karena ini kesepakatan maka komitmen ini harus tetap dijalankan oleh Budiman. Dan tidak boleh TP menganggap ini sebagai bentuk penghianatan terhadap Partai Golkar, kata Tom.
“Justru Budiman yang akan dianggap tidak konsisten jika mengkhianati kesepakan tersebut,” sambungnya lagi.
Lanjutnya, meski Partai Golkar bisa mengusung Paslon sendiri tampa berkoalisi, tapi harus disadari oleh TP Bahwa kemenangan pasangan Husler-Budiman di Pilkada Lutim adalah buah dari kerja keras dan kerja cerdas dari semua komponen.
“Mulai dari Paslon, Tim Pemenangan, relawan dan seluruh partai politik pengusung dan Parpol pendukung. Dan kemenangan ini tidak boleh diklaim sepihak sebagai usaha, murni Partai Golkar,” ujarnya.
Sebagai mantan sekretaris Tim Pemenangan Husler Budiman, saya tidak melihat andil besar dari TP dan pengurus Partai Golkar Sulsel dalam usaha memenangkan pasangan Husler Budiman.
Bahkan kata dia, Anggota DPR RI dan DPRD Sulsel dari dapil 3 dan 11 tidak pernah kami temukan di lapangan membantu kerja-kerja pemenangan.
“Komentar TP tentang Budiman yang tidak ada apa-apanya adalah bentuk kesombongan. Mestinya sebagai seorang pemimpin harus menjauhkan diri dari sikap sombong karena sikap ini sangat tidak disukai oleh Allah SWT,” tegasnya.
Apalagi kapasitas dan kecerdasan Budiman saat sosialisasi dan kampanye terutama saat live debat publik, dirasakan memberi pengaruh electoral yang sangat baik dan memberi dampak pada kemenangan pasangan Husler-Budiman, ucap Tom.
Masih dikatakannya, bahwa sebagai politisi yang merasa senior dan matang, mestinya TP harus memahami kondisi ini dan mengajak Budiman untuk bicara tentang masa depan Partai Golkar Lutim setelah ditinggal Almarhum Thorig Husler. Termasuk mengkompromikan siapa yang bakal mengisi jabatan Ketua DPRD dan Ketua DPD Partai Golkar Lutim.
Selain itu, Partai Golkar seharusnya memilih figur ketua Golkar dan Ketua DPRD Lutim yang memiliki kedekatan khusus dengan Budiman, agar figur yang dimaksud dapat setiap saat membangun sinergi dengan Budiman yang dapat memberi keuntungan politik bagi Partai Golkar. Bukan malah mengajak teman-teman anggota fraksi Golkar DPRD Lutim, termasuk ketua DPRD Lutim kelak, untuk berhadap-hadapan dengan Budiman dalam menjalankan pemerintahannya.
“Karena kalau itu yang dilakukan TP maka saya sangat yakin akan terjadi gelombang besar kader yang memilih keluar dari partai Golkar, bahkan mungkin sebagian besarnya akan memilih bergabung dengan PDIP dan kalau itu terjadi tentu akan menjadi malapetaka partai Golkar di Lutim,” kuncinya.
Liputan: Amk | Editor: Redaksi.














