INPUTRAKYAT_MAKASSAR – Pengusaha nasional sekaligus Pendiri Bosowa Corporation, H.M. Aksa Mahmud, resmi menjadi pemegang saham terbesar PT Fajar Indonesia Corporindo setelah mengakuisisi 40,5 persen saham milik Jawa Pos dan 5,6 persen saham milik Dorothea Samola. Transaksi tersebut membuat kepemilikan saham Aksa Mahmud mencapai 49,88 persen, menjadikannya pemegang saham terbesar di perusahaan induk (holding) Fajar Group.
Direktur Utama PT Fajar Indonesia Corporindo, Suhendro Boroma, mengatakan akuisisi dilakukan atas nama pribadi H.M. Aksa Mahmud dan bukan melalui Bosowa Corporation. Menurutnya, keputusan tersebut lebih didorong oleh pertimbangan historis dan kedekatan emosional dengan para pendiri Harian Fajar dibanding kepentingan investasi semata.
“Posisi Pak Aksa itu hampir 50 persen, tepatnya 49,88 persen. Pembelian saham dilakukan atas nama pribadi dengan pertimbangan menjaga sejarah dan kesinambungan Fajar Group,” ujar Suhendro dalam konferensi pers di Graha Pena, Makassar, Kamis (23/7/2026).
PT Fajar Indonesia Corporindo merupakan perusahaan induk yang membawahi berbagai unit usaha Fajar Group, meliputi media cetak, media digital, televisi, radio, properti, layanan kesehatan, transportasi, pendidikan, hingga sejumlah sektor bisnis lainnya. Perubahan struktur kepemilikan ini dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi bisnis perusahaan di tengah transformasi industri media.
Aksa Mahmud mengungkapkan, pembelian saham tersebut sebenarnya tidak masuk dalam agenda investasi Bosowa sepanjang 2026. Namun, ketika mendapat penawaran untuk mengambil alih saham yang dilepas, ia memutuskan bertindak demi menjaga kesinambungan sejarah perusahaan yang dibangun bersama almarhum H.M. Alwi Hamu dan H.M. Jusuf Kalla.
“Saya ingin Fajar tetap berada dalam suasana kekeluargaan. Ini bukan semata-mata soal bisnis, tetapi menjaga warisan dan semangat para pendiri,” kata Aksa.
Sebelum mengambil keputusan, Aksa mengaku telah menawarkan kesempatan pembelian saham tersebut kepada Agus Salim, putra almarhum H.M. Alwi Hamu. Karena belum memungkinkan untuk mengambil alih, Aksa akhirnya membeli seluruh saham yang ditawarkan.
Ia mengenang bahwa saat Harian Fajar didirikan, dirinya justru menjadi pemegang saham dengan porsi paling kecil dibandingkan Jusuf Kalla dan Alwi Hamu. Meski demikian, sejak awal mereka sepakat menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada Alwi Hamu yang dinilai memiliki kapasitas dan dedikasi tinggi di bidang jurnalistik.
“Kami bertiga mendirikan Fajar, tetapi sepakat Pak Alwi yang mengelola karena beliau memiliki kemampuan di dunia pers, sementara saya dan Pak JK fokus mengembangkan usaha masing-masing,” tuturnya.
Aksa juga mengingat kembali perjalanan awal Fajar Group yang akhirnya memilih Jawa Pos sebagai mitra strategis setelah melalui berbagai pertimbangan. Menurutnya, keputusan itu menjadi salah satu fondasi penting dalam pertumbuhan Fajar hingga berkembang menjadi kelompok usaha media terbesar di Indonesia Timur.
Di tengah disrupsi industri media akibat perkembangan teknologi digital dan perubahan pola konsumsi informasi, Aksa berharap perubahan struktur kepemilikan ini menjadi energi baru bagi Fajar Group untuk mempercepat transformasi bisnis tanpa meninggalkan idealisme jurnalistik yang menjadi warisan para pendiri.
Dengan kepemilikan hampir 50 persen saham, Aksa Mahmud menegaskan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan Fajar Group sebagai perusahaan media yang sehat, adaptif, dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang telah dibangun sejak awal berdirinya.














