Example 728x250
Example 728x250
Berita

Melalui Bestari Saintek Polipangkep, Produk Wastra Berbasis Pewarnaan Kelapa Hadir di Pusat Oleh-Oleh

33
×

Melalui Bestari Saintek Polipangkep, Produk Wastra Berbasis Pewarnaan Kelapa Hadir di Pusat Oleh-Oleh

Sebarkan artikel ini
Foto : Ist.

INPUTRAKYAT_MAKASSAR – Produk wastra berbasis pewarnaan alam dari kelapa mulai diperkenalkan melalui Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara di Pusat Oleh-Oleh Roti Mantao, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

 

Inovasi tersebut merupakan bagian dari pengembangan wastra Sulawesi Selatan melalui Bestari Saintek Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep). Produk wastra tersebut diperkenalkan dalam soft opening Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara, Rabu (26/8/2026).

 

Kepala Unit Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Polipangkep sekaligus Ketua Tim Riset Bestari Saintek Pewarnaan Alam pada Wastra Sulawesi Selatan, Dr. Zulfitriany Mustaka, mengatakan pengembangan wastra tidak hanya berorientasi pada pelestarian budaya, tetapi juga perlu didukung pendekatan sains dan teknologi.

 

“Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara tidak sekadar berfungsi sebagai ruang pamer atau galeri statis, melainkan sebuah ekosistem inkubasi bisnis bagi pelaku UMKM industri kreatif,” kata Zulfitriany.

 

Menurutnya, Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara menjadi ruang untuk menghubungkan proses riset, pelatihan, pendampingan, hingga pengembangan produk yang dapat diterapkan langsung oleh pelaku UMKM.

 

“Di tempat ini, proses pelatihan, pendampingan dan pembinaan dijalankan dengan tersedianya modul-modul praktik yang berbasis sains dan teknologi,” ujarnya.

 

Pengembangan pewarnaan alam berbasis kelapa menjadi salah satu upaya untuk mendorong pemanfaatan potensi bahan alam dalam menghasilkan produk wastra yang memiliki karakter khas.

 

Produk tersebut diharapkan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi perajin dan pelaku UMKM.

 

Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara sendiri merupakan hasil kolaborasi Trihelix antara Polipangkep, Owner Pusat Oleh-Oleh Roti Mantao, dan Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara.

 

Kolaborasi tersebut menggabungkan peran akademisi, dunia usaha, dan lembaga pendidikan untuk membangun ekosistem pengembangan wastra dan kriya di Sulawesi Selatan.

 

Founder Yayasan Pendidikan Cahaya Lontara, Ariiqah Zahra Mardhatillah, mengatakan kehadiran ruang tersebut diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan produk berbasis budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

 

Menurut Ariiqah, nama Cahaya Lontara sendiri diambil dari nilai filosofis aksara Lontara yang menjadi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Bugis-Makassar.

 

“Melalui integrasi budaya ini, setiap karya yang dihasilkan diharapkan memancarkan identitas kuat khas Sulawesi Selatan ke panggung nasional hingga global,” ujarnya.

 

Dukungan terhadap pengembangan wastra juga disampaikan Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulawesi Selatan yang diwakili Kepala Bidang Pemberdayaan Koperasi, Indriastuti Sagaf, SH., MH.

 

Ia berharap keberadaan Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara dapat memperkuat kapasitas UMKM melalui pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha saat ini.

 

Salah satu aspek yang dinilai penting adalah digital marketing. Dengan kemampuan pemasaran digital, produk wastra dan kriya lokal diharapkan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.

 

Dinas Koperasi dan UMKM Sulawesi Selatan juga membuka peluang bagi alumni Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara untuk menjadi bagian dari binaan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

 

Sementara itu, Wakil Ketua Harian Dekranasda Provinsi Sulawesi Selatan, Prof. Sri Astuti Thamrin, mengatakan pengembangan wastra berbasis potensi lokal dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat.

 

“Semoga ruang ini nantinya dapat memperkuat karya-karya berbasis budaya dan keunggulan produk Sulawesi Selatan,” kata Astuti.

 

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media dapat terus diperkuat sehingga produk wastra Sulawesi Selatan semakin berkembang.

 

Rumah Wastra dan Kriya Cahaya Lontara tidak hanya menjadi tempat memamerkan produk. Ruang tersebut juga menyediakan fasilitas edukasi dan pelatihan bagi generasi muda yang ingin mengenal teknik pembuatan wastra dan kriya tradisional.

 

Melalui pendekatan riset dan pemanfaatan bahan alam, pengembangan wastra berbasis pewarnaan kelapa diharapkan dapat menjadi salah satu inovasi yang mempertemukan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi kreatif di Sulawesi Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *