Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Wabup Lutim Menilai CSR PT. Vale Belum Maksimal di Masyarakat

427
×

Wabup Lutim Menilai CSR PT. Vale Belum Maksimal di Masyarakat

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_MAKASSAR,–Wakil bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam memimpin rapat koordinasi CSR PT. Vale untuk 4 wilayah pemberdayaan yakni, Kecamatan Nuha, Towuti, Wasuponda dan Malili, di Hotel Aryaduta, Jln. Somba Opu, Losari Kota Makassar, Jumat (16/3/2018) sore.

Rapat koordinasi penyusunan rencana program masyarakat ini, di hadiri 3 komponen yang tergabung dalam tim 3 pilar yakni Masyarakat, Pemerintah, dan PT. Vale Indonesia.

Usai rapat, Wabup Lutim Irwan Bachri Syam saat ditemui mengatakan, kegiatan ini memang sudah beberapa waktu kita rencanakan untuk membahas terkait rencana induk program pengembangan masyarakat (RIPPM) yang diikuti tim 3 pilar yakni, Pemerintah, PT. Vale dan Masyarakat, ungkapnya kepada InputRakyat.co.id.

Pasalnya, sebelum menjadi Blueprint Provinsi dan Kementerian ESDM, kita coba gagas dulu sebuah konsep RIPPM. Dimana konsep ini kita harap bisa menjadi acuan kepada kita semua khususnya di wilayah pemberdayaan 4 kecamatan, 39 desa di Kabupaten Luwu Timur, agar betul-betul bisa menjadikan masyarakat yang sejahtera dan mandiri, terang Irwan.

Menurutnya, selama kurang lebih 17 tahun program CSR PT. Vale dari tahun ke tahun tidak memperlihatkan suatu hasil yang maksimal dan saya rasa masih kurang kontribusi kepada masyarakat di wilayah pemberdayaan, bebernya.

“Oleh sebab itu, semoga teman-teman yang hadir disini dari tim 3 pilar dapat meramu sebuah konsep, yang mana konsep itu nantinya bisa membuat masyarakat lebih baik dan lebih sejahtera,” ketusnya.

Harapan kami disini kata Irwan, konsep itu betul-betul fokus terhadap apa yang menjadi program masing-masing desa, sehingga sinergisitas terhadap program nantinya dibuat oleh desa di 4 kecamatan yang fokus terhadap potensi dimasing-masing desa.

Program kali ini tidak seperti tahun sebelumnya yakni anggaran mengikuti progam. Maka tahun ini kita ubah yakni program mengikuti anggaran dan mengacu pada potensi-potensi desa yang telah disiapkan, kata Irwan.

Dijelaskannya, tidak semua potensi di desa sama. Maka tidak mutlak anggarannya pun harus sama.

“Namun yang paling terpenting disini adalah, terkaitnya dengan potensi desa, maka tak lagi memprogramkan terlalu banyak. Barangkali cuma satu program yang nanti akan di programkan sehingga betul-betul fokus terhadap potensi desa itu sendiri,” kuncinya.

Liputan: Noya | Editor: Amk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *