Example 728x250
Example 728x250
Input Sulteng

Cerita Nelayan di Desa Tokonanaka Merugi Imbas Aktivitas Kapal Perusahaan

816
×

Cerita Nelayan di Desa Tokonanaka Merugi Imbas Aktivitas Kapal Perusahaan

Sebarkan artikel ini
Foto: dokumen warga setempat

INPUTRAKYAT_MORUT,–Mata pencaharian utama masyarakat Desa Tokonanaka, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Mirowali Utara, adalah melaut.

Namun tiga tahun terakhir ini, nelayan di wilayah tersebut harus menelan pil pahit lantaran produksi ikan merosot tajam akibat aktivitas lalu lalang kapal perusahaan.

Demikian diungkapkan salah seorang nelayan di Desa Tokonanaka, Rasid kepada media ini, Selasa (17/10/2023).

“Sudah tiga tahun hasil tangkap kami menurun drastis, kami kesulitan mendapatkan ikan di lokasi yang dekat,” ujarnya.

Itu disebabkan kata Rasid, karena aktivitas kapal perusahaan yang lalu lalang di tempat yang biasanya kami tempati menjaring ikan.

Menurutnya, dalam sehari sebanyak lima kapal yang melintas. Ada yang memuat ore dan adapula yang memuat batu bara.

“Ini sangat merugikan kami, karena biasanya kami berpenghasilan Rp. 5 juta perbulan dari hasil tangkapan, sekarang sudah susah, dan ini sudah berlangsung 3 tahun,” jelasnya.

Persoalan ini lanjut dia, kita sudah laporkan ke DPRD Morut dan digelar rapat dengar pendapat bersama perusahaan, namun tidak ada hasil sampai saat ini.

“Kami hanya menuntut kompensasi pak, kami tidak menuntut yang lain-lain, karena profesi kami satu-satunya hanya nelayan, tidak ada yang lain,” tandas Rasid.

“Kalau pun tidak ada perusahaan yang mau bertanggung jawab atas dampak yang kami alami, ya’ jangan salahkan jika kami harus turun memblokade di laut agar tidak lagi dilintasi kapal,” pungkasnya.

Hal tersebut juga dibenarkan Kades Asrar Sondeng selaku Kepala Desa Tokonanaka saat dikonfirmasi terpisah mengenai keluhan tersebut.

“Betul itu pak, persoalan ini sudah berlangsung lama sehingga nelayan kami sudah mulai geram dengan kondisi itu,” terangnya.

Ia mengatakan, dari 146 KK, terdapat sekitar 95 persen warga kami berprofesi nelayan, dan dulu Desa kami terkenal berproduksi ikan.

“Sekarang susah sekali mereka dapatkan lagi ikan, makanya kami berharap agar pihak perusahaan pemilik kapal yang sering melintas di wilayah kami agar bertanggung jawab,” tegasnya.

Ditambahkannya, kami tidak pernah melarang berinvestasi di daerah ini, tapi jangan juga menyampingkan kami sebagai terdampak.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *